Hilirisasi Sulteng: Besar Investasi, Besar Pula Serapan Tenaga Kerja Lokal?
Oleh: Akhsan Intje Makkah - Penulis
Jakarta - Spektroom: Hilirisasi dan industrialisasi menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam RAPBN 2027. Ketika menyampaikan RUU APBN 2027 dalam Sidang Paripurna DPR RI pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menempatkan hilirisasi dan industrialisasi sebagai salah satu dari delapan Program Kerja Prioritas Nasional.
Arah kebijakan tersebut antara lain ditujukan untuk memperkuat nilai tambah sumber daya alam, mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan tersebut sangat relevan dengan Sulawesi Tengah. Daerah ini telah berkembang menjadi salah satu pusat hilirisasi nasional, terutama industri berbasis nikel.
Besarnya investasi yang masuk tentu merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Namun, di balik angka investasi dan pertumbuhan ekonomi, terdapat pertanyaan yang tidak kalah penting: seberapa besar manfaat hilirisasi tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat Sulawesi Tengah, terutama melalui kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan setelah Komisi IX DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Palu pada Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut, DPR menyoroti bahwa pertumbuhan investasi di Sulteng perlu diikuti peningkatan kualitas kesempatan kerja.
Disebutkan pula bahwa penyerapan tenaga kerja di Sulteng mencapai 19.114 pekerja pada semester I 2026. Namun, DPR menekankan bahwa peningkatan investasi dan hilirisasi juga harus diikuti pekerjaan yang layak, kepatuhan terhadap norma keselamatan kerja serta perluasan jaminan sosial bagi tenaga kerja.
Disinilah pertanyaan tentang tenaga kerja lokal menjadi penting : Jangan Berhenti pada Angka Investasi
Sulawesi Tengah memang terus menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Data BPS mencatat ekonomi Sulteng pada triwulan II 2026 tumbuh 5,06 persen secara tahunan.
Secara kumulatif, ekonomi Sulteng pada semester I 2026 tumbuh 6,64 persen. Industri pengolahan tetap menjadi penopang utama perekonomian daerah dengan kontribusi 44,37 persen terhadap struktur ekonomi Sulteng.
Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya peranan sektor industri dalam perekonomian daerah.
Namun, pertumbuhan ekonomi pada akhirnya perlu diterjemahkan menjadi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Masyarakat tentu ingin mengetahui apakah perkembangan industri dan investasi tersebut benar-benar membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, meningkatkan pendapatan, memperluas kesempatan usaha dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Sulawesi Tengah.
Karena itu, ukuran keberhasilan hilirisasi seharusnya tidak berhenti pada nilai investasi, pertumbuhan ekonomi atau peningkatan produksi.
Ada indikator lain yang tidak kalah penting: berapa banyak masyarakat lokal yang memperoleh pekerjaan dan seberapa baik kualitas pekerjaan tersebut? Siapa yang Mengisi Lapangan Kerja? Pengamat Kebijakan Publik Drs. Taufik Yoto Lemba, MM mempertanyakan kontribusi investasi hilirisasi terhadap angkatan kerja lokal Sulteng.
Menurutnya, investasi yang besar idealnya tidak hanya tercermin dalam angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: berapa banyak tenaga kerja yang berasal dari Sulawesi Tengah dan berapa yang berasal dari luar daerah?
Lebih jauh lagi, pada posisi apa tenaga kerja lokal ditempatkan?
Apakah sebagian besar masih berada pada pekerjaan operasional, atau sudah semakin banyak yang menduduki posisi teknis, profesional, supervisor dan manajerial?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mempertentangkan tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja dari luar daerah. Industri tentu membutuhkan tenaga kerja dengan berbagai kompetensi dan pengalaman.
Persoalannya adalah apakah pertumbuhan industri di Sulteng juga berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan tenaga kerja daerah.
Sebab, jika industri berkembang tetapi masyarakat lokal tidak mengalami peningkatan keterampilan dan kesempatan menduduki pekerjaan dengan kompetensi lebih tinggi, maka manfaat jangka panjang hilirisasi bagi daerah masih perlu terus diperkuat.
Kualitas SDM Lokal
Persoalan tenaga kerja bukan hanya soal jumlah. Kualitas pekerjaan juga penting.
Tenaga kerja lokal idealnya tidak hanya menjadi bagian dari jumlah pekerja yang terserap industri, tetapi juga memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi.
Anak-anak muda Sulteng, seharusnya memiliki peluang untuk berkembang menjadi teknisi, tenaga profesional, supervisor, engineer, manajer, bahkan pelaku usaha yang masuk ke dalam rantai pasok industri.
Karena itu, hubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri menjadi sangat penting.
SMK, perguruan tinggi, balai latihan kerja dan lembaga pendidikan lainnya perlu memiliki hubungan yang semakin erat dengan perkembangan industri di daerah.
Dengan demikian, investasi tidak hanya mendatangkan modal dari luar, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.(@Ng)