Inflasi Depok Tertinggi di Jabar, Pemkot Perkuat Operasi Pasar dan Koordinasi dengan BI
Depok-Spektroom : Wali Kota Depok Supian Suri mengakui tingkat inflasi di Kota Depok saat ini masih tergolong tinggi dibandingkan daerah lain di Jawa Barat. Pemerintah Kota (Pemkot) Depok pun terus melakukan berbagai langkah untuk menekan laju kenaikan harga, mulai dari koordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga memperkuat operasi pasar.
Hal itu disampaikan Supian Suri usai menghadiri pengajian bulanan di Masjid Agung Baitul Kamal, Jumat (24/7/2026).
"Sedikit soal pengawasan, kita terus berikhtiar. Kemarin juga saya sudah komunikasi dengan pimpinan BI Provinsi Jawa Barat. Kita minta dukungan bagaimana upaya-upaya agar inflasi ini bisa terkendali," kata Supian.
Menurutnya, Pemkot Depok berharap berbagai langkah yang dilakukan dapat segera menurunkan angka inflasi sehingga kembali berada pada level yang wajar.
"Hari ini kita termasuk yang tinggi di Jawa Barat. Kita berharap bisa turun. Operasi pasar terus kita lakukan, distribusi kita pastikan aman, dan masyarakat juga diharapkan tidak khawatir terhadap kondisi yang ada," ujarnya.
Selain menjaga stabilitas harga, Pemkot juga memperketat pengawasan di lapangan. Supian menegaskan, jika ditemukan pelanggaran yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan maupun harga barang, pemerintah akan segera mengambil tindakan.
"Ini menjadi bagian dari SOP yang memang menjadi kewajiban kita. Kalau ada pelanggaran di lapangan, jangan sampai berlarut-larut, harus ada penindakan," tegasnya.
Sementara kalangan menilai, Penyebab Inflasi Depok tinggi dibandingkan daerah lain di Jawa Barat diperkirakan dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Pertama, Depok merupakan kota jasa dan konsumsi yang sangat bergantung pada pasokan bahan pangan dari daerah lain seperti Bogor, Cianjur, Bandung, hingga Jawa Tengah. Ketika terjadi gangguan distribusi atau kenaikan harga di daerah pemasok, dampaknya langsung terasa di pasar-pasar Depok.
Kedua, tingginya jumlah penduduk dan daya beli masyarakat menyebabkan permintaan terhadap kebutuhan pokok tetap tinggi. Ketika pasokan tidak mampu mengimbangi permintaan, harga cenderung meningkat.
Ketiga, kenaikan harga komoditas pangan bergejolak (volatile food) seperti beras, cabai, bawang merah, daging ayam, dan telur masih menjadi penyumbang utama inflasi. Komoditas ini sangat dipengaruhi faktor cuaca, distribusi, dan musim panen.
Keempat, karakteristik Depok sebagai kota penyangga Jakarta membuat harga sejumlah komoditas dan jasa cenderung mengikuti dinamika kawasan Jabodetabek yang memiliki biaya distribusi dan operasional lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Jawa Barat.
Karena itu, langkah operasi pasar, pengamanan distribusi, pengawasan stok, serta koordinasi dengan Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi strategi penting agar kenaikan harga tidak terus berlanjut dan inflasi Kota Depok dapat kembali terkendali. (wis).