Inflasi Sumbar 2025 Tertinggi Setelah Aceh, Dipicu Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi
Spektroom - Inflasi Sumatera Barat (Sumbar) tercatat tinggi sepanjang 2025 seiring tekanan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang berdampak langsung pada sektor pangan dan distribusi.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Majid Ikram, dalam kegiatan Media Briefing Overview Perekonomian 2025 dan Outlook Perekonomian 2026 di Padang, Senin (5/1/2026).
Dirinya menyebut inflasi Sumbar mulai mengalami tekanan sejak Agustus 2025, setelah sebelumnya relatif terjaga hingga Juli.
“Inflasi Sumbar termasuk yang tertinggi. Kami berada di bawah Aceh dengan angka 5,15 persen. Kenaikan harga dipicu cuaca ekstrem pada pertengahan tahun yang menurunkan produksi komoditas pangan seperti bawang, beras, dan cabai,” ujar Abdul Majid Ikram.
Menurutnya, tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok volatile food. Cuaca ekstrem yang berlanjut mengubah pola tanam dan menurunkan produktivitas pertanian, khususnya padi yang relatif rentan terhadap kondisi cuaca.
Selain penurunan produksi, beras Sumbar juga mulai diminati pasar luar daerah seperti Riau, Kepulauan Riau, Jawa, hingga Malaysia untuk memasok rumah makan Padang.
Di tengah permintaan yang meningkat, produksi justru menurun sehingga harga tidak sepenuhnya terpengaruh kebijakan harga eceran tertinggi (HET).
Tekanan inflasi juga terjadi pada komoditas cabai akibat penurunan produksi dan suplai. Rantai pasok yang sebelumnya mengandalkan daerah sendiri kini bergantung pada pasokan dari Jawa, menyebabkan inflasi bertahan tinggi hingga November 2025.
Memasuki dua pekan Desember, harga pangan sempat menunjukkan tren penurunan seiring upaya pengendalian.
Namun, bencana hidrometeorologi kembali menekan distribusi akibat terputusnya sejumlah jalur logistik, termasuk akses Lembah Anai.
“Jalur distribusi yang biasanya bisa dilewati tidak dapat dilalui karena jalan terputus. Membuat kami cukup kesulitan. Secara fundamental harga memang naik, bukan karena spekulasi,” katanya.
Selain pangan, tekanan inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan yang mengikuti tren harga global.