Kandris Asrin: Dari Karate ke Langit, Tetap Buru Prestasi di Usia 61 Tahun

Kandris Asrin: Dari Karate ke Langit, Tetap Buru Prestasi di Usia 61 Tahun
Kandris Asrin (kanan) bersama Ketua Bidang Humas KONI Sumbar Hendri Parjiga saat memantau atlet paramotor latihan di Pantai Parkit, Air Tawar, Padang, Minggu (21/6/2026). (Foto: jiga)

Padang-Spektroom : Nama Kandris Asrin bukanlah sosok asing di dunia olahraga Sumatera Barat. Bagi generasi olahraga era 1980 hingga 1990-an, nama ini identik dengan karate. Namun siapa sangka, setelah meninggalkan cabang olahraga yang membesarkan namanya, Kandris justru menemukan tantangan baru di angkasa dan tetap buru prestasi kendati kini berusia 61 tahun. Perjalanan hidup Kandris bisa dibilang jauh dari kata biasa. Ia pernah menjadi karateka andalan Sumbar, pelatih sukses, kontraktor, sopir truk, pengembang perumahan, hingga kini dikenal sebagai salah satu tokoh penting olahraga dirgantara Indonesia. Karate menjadi bagian penting dalam hidup Kandris sejak muda. Pemilik sabuk hitam perguruan Lemkari itu pernah meraih medali perak di Kejuaraan Nasional. Prestasinya tidak berhenti saat menjadi atlet. Ketika beralih menjadi pelatih, Kandris mencatat sejarah penting. Di tangannya, cabang olahraga karate Sumbar untuk pertama kalinya berhasil lolos ke Pekan Olahraga Nasional (PON). Sebuah pencapaian yang kala itu menjadi kebanggaan besar bagi dunia olahraga Ranah Minang. Namun pada 2014, setelah puluhan tahun mengabdi di karate, Kandris memutuskan mundur. Banyak yang mengira ia akan meninggalkan dunia olahraga sepenuhnya. Ternyata tidak. *Menemukan Tantangan Baru di Langit* Setelah meninggalkan karate, Kandris memilih jalan yang tak banyak dipilih orang seusianya. Ia terjun ke olahraga dirgantara, tepatnya paramotor. Olahraga ini memadukan parasut dengan mesin dan baling-baling yang dipasang di punggung penerbang. Bagi sebagian orang, olahraga ini terlihat ekstrem dan menuntut keberanian tinggi. Namun justru tantangan itulah yang membuat Kandris jatuh hati. Empat tahun setelah menekuni paramotor secara serius, ia berhasil membuktikan kualitasnya. Pada 2018, Kandris dua kali menjadi juara nasional, masing-masing pada kejuaraan yang digelar di Lampung dan Banten. Prestasi tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu atlet sekaligus pelatih paramotor yang disegani di Indonesia. Di dunia paramotor nasional, nama Kandris memiliki tempat tersendiri. Ia bukan hanya atlet dan pelatih, tetapi juga instruktur. Jumlah instruktur paramotor di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk wilayah Sumatera saja, hanya ada tiga instruktur resmi, dua berasal dari Lampung dan satu dari Sumatera Barat, yakni Kandris Asrin. Karena kapasitas dan pengalamannya, hampir setiap event nasional paramotor, Kandris kerap dilibatkan untuk memberikan masukan, saran, dan pandangan teknis. "Pengalaman tidak bisa dibeli. Semakin lama berkecimpung di olahraga ini, semakin banyak pelajaran yang bisa dibagikan kepada atlet muda," ujarnya. *Mimpi Besar Paramotor Sumbar* Menurut Kandris, paramotor merupakan salah satu cabang olahraga yang memiliki peluang besar menyumbang medali bagi Sumatera Barat. Buktinya sudah terlihat. Saat masih berstatus ekshibisi pada PON Papua, paramotor berhasil menyumbangkan medali bagi Sumbar. Prestasi itu berlanjut ketika cabang ini resmi dipertandingkan pada PON Aceh-Sumut 2024. Meski menggunakan peralatan pinjaman, atlet-atlet Sumbar mampu membawa pulang satu medali perak dan satu medali perunggu. Kini, dua atlet paramotor Sumbar sudah tergabung dalam program Pelatda menuju PON NTT-NTB 2028. Kandris juga masuk dalam jajaran pelatih yang mempersiapkan atlet-atlet tersebut. Mantan Ketua KNPI Sumbar itu optimistis, dengan dukungan yang memadai, medali emas bukanlah mimpi. Di balik berbagai prestasi itu, ada persoalan yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah besar, yakni keterbatasan peralatan. Menurut Kandris, atlet-atlet paramotor Sumbar masih berlatih dengan sarana yang sangat terbatas. Bahkan beberapa peralatan yang digunakan sudah jauh dari ideal. "Kami berharap kondisi ini bisa segera diperbaiki. Atlet punya potensi besar, tetapi tentu harus didukung dengan peralatan yang layak," katanya. Meski demikian, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berlatih dan berprestasi. *Filosofi Pembinaan: Jangan Bergantung pada APBD* Sebagai pelaku olahraga yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia pembinaan, Kandris memiliki pandangan tersendiri soal pendanaan olahraga. Menurutnya, pengurus cabang olahraga maupun KONI tidak bisa hanya mengandalkan dana APBD yang jumlahnya terbatas. Mereka harus aktif membangun kemitraan dengan dunia usaha dan berbagai pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap olahraga. "Kalau ingin pembinaan berjalan maksimal, sumber pendanaan juga harus kreatif. Jangan hanya menunggu bantuan pemerintah," ujarnya. Ia juga menyambut baik digelarnya kembali Porprov Sumbar pada Oktober 2026. Menurutnya, ajang tersebut sangat penting untuk menjaga kesinambungan pembinaan atlet. Vakumnya Porprov selama bertahun-tahun sempat membuat mata rantai pembinaan terganggu dan berdampak pada prestasi olahraga daerah. Di luar dunia olahraga, perjalanan hidup Kandris juga penuh cerita menarik. Setelah lulus dari IKIP Padang yang kini bernama Universitas Negeri Padang, ia sebenarnya sempat diterima sebagai guru PNS di Solok Selatan. Bagi banyak orang, kesempatan itu mungkin dianggap sebagai pekerjaan impian. Namun Kandris memilih jalan berbeda. Karena merasa lokasi penempatan terlalu jauh dari Padang, ia memutuskan tidak mengambil kesempatan tersebut. Kandris lalu mencoba peruntungan menjadi kontraktor. Namun profesi itu tidak bertahan lama karena merasa tidak sesuai dengan panggilan hatinya. Tidak gengsi memulai dari bawah, Kandris kemudian bekerja sebagai sopir truk selama sekitar dua tahun. Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya menjadi seorang pengembang perumahan yang hingga kini masih ditekuninya. Saat banyak orang seusianya memilih menikmati masa pensiun, Kandris justru masih aktif melatih dan terbang. Setiap Sabtu dan Minggu, ia rutin membina atlet-atlet paramotor di Pantai Parkit, Air Tawar, Padang. *Tetap Prima di Usia 61 Tahun* Dengan usia yang sudah menginjak 61 tahun dan menjadi ayah dari lima anak, semangatnya tidak kalah dengan para atlet muda. Apa rahasianya? Menurut Kandris, menjaga kesehatan fisik memang penting, tetapi yang lebih utama adalah menjaga semangat dan pikiran tetap positif. Ia percaya bahwa prestasi sering kali terhambat oleh keraguan diri. "Sering kali yang membuat kita gagal meraih prestasi adalah keraguan sebelum bertanding. Ketika kita yakin dan fokus pada pertandingan tanpa terlalu memikirkan hasil akhirnya, biasanya kemampuan terbaik akan keluar," ungkapnya. Bagi Kandris Asrin, usia hanyalah angka. Dari dojo karate hingga langit biru Pantai Padang, ia membuktikan bahwa semangat belajar dan berprestasi tidak mengenal batas umur. Kini, ia terus menularkan pengalaman kepada generasi muda, berharap lahir atlet-atlet baru yang mampu mengharumkan nama Sumatera Barat di tingkat nasional bahkan internasional. Karena bagi Kandris, prestasi tidak hanya lahir dari bakat dan latihan. Prestasi lahir ketika niat yang baik dijalankan dengan cara yang baik. Dan selama semangat itu masih menyala, langit pun bukanlah batas.

(Profil ditulis oleh: Hendri Parjiga/Ketua Bidang Humas KONI Sumbar)

Berita terkait

Bupati Banyumas Ajak ASN Lindungi Pekerja Rentan Melalui Program Salin Aslimas

Bupati Banyumas Ajak ASN Lindungi Pekerja Rentan Melalui Program Salin Aslimas

Purwokerto-Spektroom – Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyumas berperan aktif memperluas perlindungan jaminan sosial ketenaga kerjaan bagi pekerja rentan dan sektor informal melalui Program SALIN ASLIMAS (Sadewo Lintarti ASN Peduli Pekerja Rentan Banyumas). Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan Penguatan Komitmen Program

Bian Pamungkas
NTB Didorong Jadi Pelopor Layanan Digital Nasional Terintegrasi

NTB Didorong Jadi Pelopor Layanan Digital Nasional Terintegrasi

Mataram-Spektroom : Asisten Deputi Manajemen Transformasi Layanan Digital Pemerintah Kementerian PANRB, Fahmi Alusi, tengah mematangkan transisi regulasi dari Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) menuju Layanan Digital Nasional yang lebih terintegrasi. Langkah strategis tersebut diakselerasi melalui Focus Group Discussion (FGD) Uji Coba Pedoman dan Kertas Kerja Manajemen Layanan Digital Pemerintah Batch 2,

Julianto, Marsam Putrangga