Kasus HIV AIDS Di Solo Tinggi, Didominasi Warga Luar Daerah
Solo - Spektroom : Kasus penyakit menular Di Kota Solo khususnya HIV Aids tercatat cukup tinggi, tetapi di dominasi penderita luar kota.
Dari data yang di catat di Dinas Kesehatan Kota Surakarta hingga bulan Mei 2026 HIV sebanyak 112 kasus, dimana 83 kasus diantaranya warga luar daerah sisanya 29 orang asal kota Solo.
Dikonfirmasi ( Rabu 10/06/2026 ) Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta Retno Erawati menjelaskan banyaknya penderita yang masuk kota Solo dikarenakan lengkapnya fasilitas dan layanan kesehatan yang dapat diakses.
Termasuk penderita enggan mengakses fasilitas kesehatan yang dekat dari rumahnya agar tidak diketahui lingkungan maupun keluarganya.
"Rata-rata masyarakat itu mereka itu tidak mau periksa di tempat pelayanan kesehatan yang di dekat rumahnya. Mereka memilih tempat yang jauh supaya tidak ketahuan oleh lingkungannya atau bahkan oleh keluarganya sendiri," Jelas Retno,
Selain faktor privasi untuk menghindari stigma sosial, para pasien dari luar kabupaten sekitar sengaja memilih Surakarta karena kualitas layanan medisnya dinilai jauh lebih unggul.
Kota Solo dinilai memiliki ketersediaan alat medis yang lebih modern, kompetensi sumber daya manusia tenaga kesehatan yang mumpuni, serta jaminan akses obat-obatan yang lebih mudah didapatkan.
Guna menekan angka penularan yang lebih luas, Dinas Kesehatan Kota Surakarta gencar melakukan skrining secara massal dengan menyasar populasi kunci pada sore dan malam hari.
Dalam pelaksanaan Voluntary Counseling and Testing atau VCT ini, pihak dinas menggandeng sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus pada penanggulangan HIV untuk mengoptimalkan penemuan kasus baru.
"Semua Puskesmas di Surakarta ini sudah melakukan layanan untuk HIV dan menjadi klinik PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan). Kami juga menguatkan kompetensi rumah sakit sehingga akses masyarakat terhadap layanan kesehatan menjadi lebih mudah," kata Retno menambahkan.
Langkah penanganan medis ini juga diimbangi dengan edukasi masif ke sekolah-sekolah serta penguatan kurikulum pergaulan melalui peran aktif guru kelas.
Upaya penekanan kasus turut diperkuat di tingkat akar rumput melalui Warga Peduli AIDS di setiap kelurahan, dengan tujuan mengikis stigma negatif di masyarakat demi tercapainya keberhasilan pengobatan pasien. (Dan)