Kekeringan Melanda Tiga Kalurahan dan Tujuh Padukuhan di Sleman
Sleman-Spektroom : Kemarau panjang mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di Kabupaten Sleman. Hingga Jumat (25/9/2026), kekeringan tercatat terjadi di tiga kalurahan yang mencakup tujuh padukuhan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Uun Mardiyanto, mengatakan wilayah terdampak berada di Kalurahan Sumberarum, Kapanewon Moyudan; Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel; serta Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Godean.
Di Sumberarum, kekeringan terjadi di Padukuhan Pasar Sejati, Pakelan, dan Jitar. Kondisi tersebut dipicu menurunnya debit air sumur yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Debit air sumur mulai berkurang drastis sehingga sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan pelanggan air. Solusinya, kemarin dibuatkan sumur bor baru. Harapannya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Uun saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (25/9/2026).
Sementara di Kalurahan Merdikorejo, kekeringan melanda Padukuhan Soka Tegal, Soka Binangun, Kantong, dan Bangunrejo. BPBD Sleman masih membahas langkah penanganan bersama pihak terkait untuk menentukan solusi yang tepat.
“Untuk wilayah Merdikorejo, saat ini masih dalam proses pembahasan. Ada empat padukuhan yang kami petakan, kira-kira solusi apa yang paling tepat,” ujarnya.
Adapun di Kalurahan Sidorejo, kekeringan terjadi di Padukuhan Jering VIII. Kondisi serupa juga menjadi perhatian BPBD karena kebutuhan air bersih warga meningkat selama musim kemarau.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Sleman bersama sejumlah pemangku kepentingan melakukan distribusi air bersih. Bantuan tersebut melibatkan PMI, BAZNAS, PDAM, hingga Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Kementerian PUPR.
Uun mengatakan distribusi air bersih telah dilakukan sejak bulan sebelumnya dengan jumlah bantuan yang berbeda-beda sesuai kebutuhan wilayah. Sebanyak 103 tangki air, misalnya, telah didistribusikan ke sejumlah wilayah di Kapanewon Turi dalam kurun waktu sekitar satu bulan.
“Di Turi itu karena debit air Sungai Krasak juga sudah mulai menurun,” katanya.
BPBD Sleman mengimbau masyarakat lebih bijak dalam menggunakan air selama kemarau berlangsung. Warga diminta menghemat penggunaan air dan mengutamakan kebutuhan pokok, terutama untuk kebutuhan rumah tangga.
Menurut Uun, kondisi kemarau panjang diperkirakan mulai berakhir pada awal Oktober, meski masyarakat tetap diminta bersiap menghadapi kemungkinan perubahan kondisi cuaca.