Selama Kemarau di Banyumas, Terjadi 55 Kebakaran pada 55,7 Hektare Lahan
Banyumas-Spektroom: Kemarau panjang di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tidak hanya menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran lahan.
Hingga Senin (12/10/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat 55 kejadian kebakaran dengan luas area terdampak mencapai 55,7 hektare.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas, Abdul Lajis, mengatakan kebakaran terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Ajibarang, Jatilawang, Rawalo, dan Baturraden, serta beberapa kecamatan lainnya.
Sebagian kejadian kebakaran diduga disebabkan faktor manusia, terutama kelalaian saat membersihkan lahan dengan cara membakar rumput, semak, maupun sisa vegetasi yang mengering.
"Dalam kondisi kemarau panjang, api yang tidak diawasi berisiko merembet ke area lain. Rumput dan semak yang mengering membuat api lebih mudah menyebar, sehingga aktivitas pembakaran terbuka dapat memicu kebakaran yang lebih luas."ujar Abdul Lajis
BPBD mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah maupun vegetasi untuk membersihkan lahan, terutama ketika cuaca panas dan kondisi lingkungan kering.
Warga juga diminta memastikan tidak ada sumber api yang ditinggalkan tanpa pengawasan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Meningkatnya risiko kebakaran di tengah kemarau menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan bersama. Pencegahan melalui perubahan kebiasaan masyarakat, terutama menghindari pembakaran terbuka, diperlukan untuk menekan risiko kebakaran sekaligus mengurangi dampak musim kemarau di Banyumas.
Selain ancaman kebakaran, kemarau panjang juga berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Berdasarkan data terbaru, kekeringan telah melanda 89 desa/kelurahan di 23 kecamatan. Untuk membantu warga terdampak, pemerintah daerah melalui BPBD telah menyalurkan sekitar 6,67 juta liter air bersih.
Distribusi tersebut telah menjangkau sekitar 1.313 penerima, yang terdiri atas 22.000 kepala keluarga atau lebih dari 77.000 jiwa.
Selain rumah tangga, bantuan air bersih juga disalurkan ke fasilitas umum di 19 lokasi, termasuk sekolah dasar, taman kanak-kanak, pondok pesantren, madrasah tsanawiyah, panti, dan rumah singgah.