Kemenhaj Terbitkan Aturan Ketat, Larang Ziarah Haji 2026 Akibat Cuaca Ekstrem
Jakarta - Spektroom : Ibadah haji biasanya tidak disia - siakan jemaah untuk ziarah meskipun cuaca panas. Akibatnya, tidak sedikit jemaah haji, terutama lansia, mengalami kelelahan fisik usai melakukan ziarah di tengah terik matahari.
Jemaah mengalami lemas, nyaris pingsan, bahkan mengalami gangguan fisik yang serius, sehingga dapat menghambat kelancaran ibadah puncak haji
Puncak haji ditandai dengan Wukuf di Arafah, diprediksi jatuh pada 26 Mei 2026 (9 Dzulhijjah 1447 H).
Jemaah bergerak dari Makkah menuju Arafah (Tarwiyah) 25 Mei. Kemudian pada 26 Mei 2026 (9 Dzulhijjah) jemaah Wukuf di Arafah (puncak haji) dan mabit di Muzdalifah.
Dalam upaya melindungi jemaah agar tetap sehat dan siap menghadapi fase inti ibadah haji, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melarang pelaksanaan ziarah atau city tour bagi jemaah haji sebelum fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna)
Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha mengatakan larangan itu tertuang dalam surat edaran terbaru yang ditujukan kepada jemaah maupun pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).
"Jemaah maupun pembimbing ibadah KBIH dilarang mengagendakan, memfasilitasi, maupun menyelenggarakan kegiatan ziarah atau city tour ke luar Kota Madinah dan Makkah sebelum seluruh rangkaian ibadah Armuzna selesai" ujar Ichsan dalam konferensi pers operasional ibadah haji 1447 H/2026 di Makkah, Kamis (7/5/2026) dikutip dari situs Kemenhaj.
Menurutnya, larangan ini bukan untuk membatasi aktivitas jemaah, tetapi sebagai langkah perlindungan agar jemaah tetap fokus mempersiapkan diri menghadapi fase Armuzna.
Kemenhaj juga meminta pembimbing KBIHU memfokuskan pembinaan jemaah pada penguatan kesiapan fisik, mental, spiritual, serta pemahaman manasik menjelang wukuf dan rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Selain itu, seluruh pergerakan jemaah wajib dilaporkan dan dikoordinasikan dengan petugas resmi, baik PPIH Kloter, bidang perlindungan jemaah, maupun sektor terkait guna menjaga ketertiban dan keselamatan jemaah.
Kemenhaj juga mengimbau seluruh jemaah menjaga kondisi fisik dengan mengatur aktivitas ibadah sesuai kemampuan, memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung diri seperti payung dan topi, serta segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan.
“Dengan suhu di Madinah dan Makkah yang berkisar antara 38 hingga 44 derajat Celsius, kedisiplinan menjaga kesehatan menjadi sangat penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah secara optimal,” pungkas Ichsan.