Ketika Anak-anak Menemukan Sejarah di Atas Rel
Semarang-Spektroom : Bagi sebagian orang, perjalanan dengan kereta api mungkin sekadar cara untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Namun bagi Danish, 13 tahun, perjalanan Jumat (25/9/2026) dari Stasiun Semarang Tawang menuju Tanggung dan Kedungjati terasa berbeda.
Anak asal Semarang itu duduk di antara para peserta Joy Ride Heritage yang digelar dalam rangka HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero). Matanya tak hanya tertuju pada pemandangan di luar jendela, tetapi juga pada sesuatu yang selama ini ia kenal dari cerita dan gambar: sejarah perjalanan kereta api Indonesia.
“Saya sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini. Selain menambah pengalaman, saya juga bisa merasakan langsung nuansa perkeretaapian di zaman dulu,” kata Danish. Di dalam rangkaian kereta, masa lalu dan masa kini seperti berjalan beriringan.
Ada Kereta Panoramic dengan jendela luas yang memungkinkan penumpang menikmati bentang alam sepanjang perjalanan. Ada Royal Heritage dengan suasana perjalanan yang lebih eksklusif. Sementara kereta vintage menghadirkan kembali atmosfer perjalanan pada masa lalu.
Bagi para pecinta kereta api, perjalanan itu bukan sekadar menikmati fasilitas. Setiap stasiun, jalur dan rangkaian memiliki cerita sendiri.

Pengalaman serupa dirasakan Muhammad Rizka Aulia, 13 tahun, pelajar kelas VII SMP asal Cirebon. Ia datang bersama ibunya setelah mendapat undangan dari komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).
Perjalanan Semarang-Kedungjati menjadi pengalaman pertamanya.
Ketertarikan Rizka terhadap kereta api tumbuh sejak 2022. Awalnya, ia banyak mengenal dunia perkeretaapian melalui kepala sekolahnya yang juga seorang railfans.
Dari sana, rasa ingin tahunya berkembang.
Ia mulai mencari berbagai informasi tentang kereta api melalui YouTube dan mengunjungi sejumlah lokasi perkeretaapian.
Kini, kesempatan melihat langsung perjalanan yang membawa jejak sejarah menjadi pengalaman tersendiri baginya.
Rangkaian Joy Ride Heritage kemudian tiba di Tanggung. Stasiun ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan karena menyimpan jejak panjang sejarah perkeretaapian Indonesia.
Dari Tanggung, kereta melanjutkan perjalanan menuju Kedungjati. Di sela perjalanan, KAI juga menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat di sekitar stasiun.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan perkembangan kereta api masa kini dengan sejarah yang membentuk perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.
“Tema tahun ini adalah sejarah, heritage, kebudayaan dan kebangsaan Indonesia,” ujar Bobby.
Menurut dia, perkembangan teknologi dan layanan kereta api tidak semestinya membuat sejarah ditinggalkan. Sebaliknya, sejarah perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.
“Kita punya tanggung jawab merawat sejarah kepada generasi muda,” tuturnya.
Pesan itu terasa relevan ketika melihat Danish dan Rizka menikmati perjalanan dari balik jendela kereta.
Bagi mereka, sejarah bukan hanya cerita dalam buku. Hari itu, sejarah hadir dalam bentuk stasiun tua, jalur rel, rangkaian kereta dan perjalanan yang bisa mereka rasakan sendiri.
Namun kereta api tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Di sepanjang perjalanan, KAI juga terus menghadapi tantangan masa kini, terutama keselamatan.
Bobby mengatakan peningkatan layanan dan pembaruan sarana harus berjalan beriringan dengan keselamatan perjalanan. Salah satunya melalui pengamanan perlintasan sebidang serta mengingatkan masyarakat agar tidak menerobos ketika kereta akan melintas.
Joy Ride Heritage akhirnya membawa peserta kembali ke Stasiun Semarang Tawang.
Perjalanan berakhir, tetapi cerita yang dibawa pulang setiap peserta tentu berbeda.
Bagi sebagian orang, perjalanan itu mungkin menjadi kesempatan menikmati kereta vintage. Bagi komunitas, ia menjadi ruang bertemu dengan sejarah yang selama ini mereka cintai.
Sementara bagi Danish dan Rizka, perjalanan tersebut bisa jadi menjadi satu pengalaman yang kelak mereka ingat: saat pertama kali melihat sejarah perkeretaapian bukan dari layar atau buku, melainkan langsung dari atas rel.
Sebab kereta api selalu bergerak ke depan. Tetapi di setiap perjalanan, ada masa lalu yang ikut dibawa.