Ketika Listrik Padam Berulang, Bukan Sekadar Gelap, Tetapi Mata Pencaharian yang Ikut Redup

Ketika Listrik Padam Berulang, Bukan Sekadar Gelap, Tetapi Mata Pencaharian yang Ikut Redup
Para petugas saat upayakan percepatan pemulihan unit listrik Kalselteng. (Foto: Dok.PLN UID KALSELTENG)

Palangka Raya-Spektroom : Listrik yang padam berulang dalam beberapa minggu terakhir bukan hanya membuat rumah-rumah menjadi gelap. Bagi sebagian warga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, gangguan listrik telah menjelma menjadi ancaman bagi mata pencaharian.

Peternak ayam dibuat cemas karena sistem ventilasi dan peralatan kandang tidak dapat bekerja optimal, pelaku UMKM kehilangan waktu produksi dan pelanggan, sementara para penghobi sekaligus pembudidaya ikan hias arwana harus menelan kerugian setelah ikan bernilai jutaan rupiah mati akibat pompa oksigen dan sistem filtrasi berhenti saat listrik padam.

Ikan hias Arwana mati akibat pompa oksigen dan sistem filtrasi berhenti saat listrik padam.(Foto: Screenshot Grup WA)

Keluhan yang semula ramai di media sosial akhirnya bergeser menjadi aksi nyata. Sejumlah warga mendatangi Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palangka Raya di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka menyampaikan protes sekaligus menuntut kepastian kapan pasokan listrik kembali normal. Aksi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan listrik tidak lagi sekadar soal kenyamanan, tetapi telah menyentuh hajat hidup masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Gangguan listrik yang berlangsung dalam beberapa minggu terakhir telah dirasakan hampir di semua sektor. Warung makan, kedai minuman, usaha fotokopi, bengkel, toko ritel, hingga usaha berbasis pendingin seperti penjual es dan bahan makanan ikut terdampak. Bagi pelaku usaha kecil, setiap jam listrik padam berarti potensi pendapatan yang hilang dan meningkatnya biaya operasional.

Perwakilan demo saat sampai orasi di depan kantor PLN unit Palangka Raya. (Foto: Dok. Logika Publik)

Menanggapi kondisi tersebut, PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa gangguan pada Sistem Interkoneksi Kalimantan dipicu kerusakan generator di PLTU Asam-Asam serta kebocoran pipa boiler dan turbin pada dua unit pembangkit Independent Power Producer (IPP), sehingga pasokan daya ke wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mengalami penurunan signifikan.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Kalselteng, Iwan Soelistijono, mengatakan seluruh personel terus bekerja mempercepat pemulihan sistem.

"Tim di lapangan terus bekerja mengejar penanganan teknis di setiap titik kerusakan. Kami menargetkan pasokan listrik Kalselteng mulai berangsur normal pada pekan pertama Agustus 2026 mendatang, seiring penuntasan pengujian keamanan unit-unit pembangkit secara bertahap," ujar Iwan.

Untuk menjaga kestabilan sistem interkoneksi, PLN masih menerapkan manajemen beban secara terbatas di sejumlah wilayah. Masyarakat juga diimbau menghemat penggunaan listrik, terutama pada pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, dengan mematikan peralatan elektronik yang tidak mendesak dan mengatur suhu pendingin ruangan di atas 24 derajat Celsius.

PLN juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan.
"Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan pengertian seluruh pelanggan. Kesadaran masyarakat menghemat listrik sangat membantu kami menjaga kestabilan sistem. Kami berkomitmen mengerahkan seluruh sumber daya terbaik agar pasokan listrik dapat segera kembali normal," pungkas Iwan. (Polin-ndik)

Berita terkait

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Sawahlunto–Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia menyalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) senilai Rp136 juta kepada kelompok masyarakat rentan di Kota Sawahlunto. Penyaluran bantuan tersebut berlangsung pada Kamis (30/7/26) dan dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sawahlunto Rovanly Abdams, mewakili Wali Kota Sawahlunto. Program ATENSI

Riswan Idris, Rafles