Kontingen Kota Ternate Optimis Raih Prestasi Pada Festival GALATAMA II Tahun 2026
Ternate-Spektroom : Lapangan Ngara Lamo Ternate di bawah kaki Gunung Gamalama Ternate menjadi saksi berlangsungnya pembukaan Festival Gerakan Literasi Madrasah
(Galatama) II Tingkat Provinsi Maluku Utara Tahun 2026, Senin (6/7/2026).
Festival yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 8 Juli 2026 ini melombakan empat cabang literasi, yaitu Literasi Agama, Literasi Bahasa, Literasi Numerasi, dan Tarian Budaya.
Kontingen Kementerian Agama Kota Ternate sebanyak 51 orang berkompetisi bersama sembilan kabupaten/kota lainnya se-Maluku Utara dalam ajang tahunan ini.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Ternate, H. Salmin Abd. Kadir beserta jajarannya turut hadir dalam acara pembukaan dan menyatakan optimismenya menghadapi festival tahun ini.
"Kami sudah mempersiapkan para peserta sebaik mungkin. Semoga seluruh kontingen Kota Ternate dapat tampil maksimal dan membawa hasil terbaik," ujarnya.
Pembukaan festival diwarnai dengan penganugerahan Rekor MURI Dunia untuk kategori Penulisan Puisi Anafora. Galatama kemudian dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dengan menekan tombol sirine.
Kakanwil Kemenag Maluku Utara, H. Amar Manaf menyampaikan bahwa lahirnya Galatama, merupakan model inovasi literasi madrasah berbasis kebijakan sekaligus praktik empiris di Maluku Utara, dengan program yang meliputi Literasi Baca Tulis Al-Qur'an (BTQ), Literasi Bahasa, dan Budaya Gemar Membaca.
"Kami yakini Galatama menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi madrasah yang religius, berwawasan global, sekaligus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif," ujarnya.
Wakil Gubernur Maluku Utara H. Sarbin Sehe mengapresiasi kemajuan madrasah, meski dari segi infrastruktur masih terbatas, namun kualitas pendidikannya telah jauh melampaui ekspektasi, dengan MAN IC sebagai salah satu buktinya.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengapresiasi Maluku Utara dan menyampaikan bahwa gagasan yang lahir di daerah ini berpotensi menjadi program nasional, sebagai bukti daerah selalu mencari hal-hal istimewa dan inovasi untuk kemajuannya.
Ia juga menjelaskan perbedaan mendasar antara sekolah dan madrasah, di mana sekolah adalah tempat mendapatkan ilmu pengetahuan dari guru, sementara madrasah adalah tempat mendapatkan ilmu pengetahuan dari Allah SWT melalui guru, perpustakaan, dan penelitian.
Menteri Agama menegaskan bahwa meski memiliki banyak keterbatasan, Kementerian Agama mengelola 95 persen madrasah swasta dan hasilnya tidak mengecewakan. Bahkan, hingga saat ini belum ada SMA yang mampu menandingi prestasi MAN Insan Cendekia Serpong.
"Tidak semua orang pintar itu arif, tapi orang arif sudah pasti pintar," tegasnya.
Ia memaparkan tiga tingkatan capaian keilmuan, yakni pintar yang menguasai ilmu, intelektual yang menguasai dan mengamalkan ilmu, serta cendekiawan yang menguasai, mengamalkan, dan memberi dampak.