Melodi Persahabatan di Rizal Park : Saat Reog dan Gemufamire Memikat Hati Warga Manila
Jakarta - Spektroom : Rizal Park yang biasanya tenang mendadak riuh oleh ketukan drum yang bertenaga. Udara Manila yang hangat berubah menjadi panggung megah bagi sebuah perayaan persahabatan tanpa batas negara. Di bawah langit Filipina, kebudayaan Indonesia hadir dan hidup, menyapa ribuan pasang mata dengan kehangatan khas Nusantara.
Langkah tegap para taruna KRI Bima Suci yang tergabung dalam Gita Jala Taruna Cadet Marching Band menjadi pembuka narasi indah hari itu. Dengan seragam kebanggaan, mereka tidak hanya membawa instrumen musik, tetapi juga membawa misi perdamaian dan kehangatan budaya lintas laut
"Hari ini, kita merayakan bukan hanya persahabatan maritim antara Indonesia dan Filipina, tetapi juga ikatan budaya dan sejarah yang telah terjalin di antara kedua negara," ujar Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) RI Manila, Victorina Hesti Dewayani, dengan nada penuh kebanggaan saat membuka acara.

Sihir Reog dan Kelincahan Bajidor
Suasana semakin magis ketika sosok singa barong raksasa mulai meliuk-liuk di tengah lapangan. Atraksi Reog Ponorogo, yang dibawakan langsung oleh para taruna KRI Bima Suci-945, berhasil menyihir penonton setempat. Decak kagum terdengar dari warga Manila yang menyaksikan kekuatan dan keindahan warisan budaya leluhur Indonesia tersebut.

Tidak kalah memukau, riuh tepuk tangan kembali pecah saat staf lokal KBRI Manila yang tergabung dalam Tim Tari Sanggar Merpati naik ke panggung. Dengan gerakan lincah dan kipas yang mengembang dinamis, mereka membawakan Tari Bajidor Kahot. Gerakan gemulai berpadu musik jaipongan seolah memindahkan sepotong keindahan tanah Sunda ke jantung ibu kota Filipina

Menariknya, diplomasi budaya ini tidak berjalan satu arah. Hubungan erat kedua negara tercermin lewat aksi dinamis atlet Philsilat Sport Association. Berada di bawah binaan pelatih asal Indonesia, para atlet Filipina ini memamerkan jurus-jurus pencak silat yang kokoh dan estetis, membuktikan bahwa budaya Indonesia telah mengakar dan dicintai di sana.
Sebagai balasan kehormatan, kelompok tari tuan rumah, Kislap Sining Dance Troupe dari Philippine Normal University, ikut turun ke gelanggang. Mereka membawakan tarian kontemporer yang merepresentasikan kekayaan tiga wilayah besar Filipina: Luzon, Visayas, dan Mindanao.
Larut dalam Gemufamire
Seni terbukti mampu meruntuhkan sekat bahasa dan perbedaan bendera. Menjelang siang, batasan antara penampil dan penonton benar-benar melebur.
Wakil Walikota Manila, Angela Lei ‘Chi’ Atienza, bersama jajaran pejabat Philippine Navy dan para prajurit, tidak lagi sekadar menjadi saksi pasif. Mereka ikut turun ke lapangan, berbaur bersama masyarakat umum dan delegasi Indonesia.

Di bawah komando irama yang riang, semua orang larut, menari bersama dalam alunan lagu daerah Indonesia Gemufamire dan tarian khas Filipina Hawak Mo Ang Beat. Senyum lepas, tawa, dan gerak kaki yang kompak menjadi penutup yang manis bagi kunjungan persahabatan (Goodwill Visit) KRI Bima Suci.
Hari itu, 3 Juli 2026 di Rizal Park, Indonesia dan Filipina tidak hanya berbagi ruang, tetapi juga berbagi jiwa lewat harmoni budaya yang akan terus dikenang.