Trending

Korupsi dan HUT Kemerdekaan RI: Perlukah Spiritualitas Diri?

Korupsi dan HUT Kemerdekaan RI: Perlukah Spiritualitas Diri?

Oleh: Prof. Dr. Drs. H. Muh. Hizbul Muflihin, M.Pd. - Guru Besar Administrasi Pendidikan UIN Saizu Purwokerto

Purwokerto - Spektroom: Setiap 17 Agustus bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada 2026 ini, Indonesia memasuki usia kemerdekaan ke-81.

Berbagai kegiatan digelar untuk memeriahkannya, mulai dari perlombaan, pentas seni, jalan sehat hingga karnaval. Namun, di balik kemeriahan tersebut, upacara pengibaran Sang Merah Putih tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh kehilangan makna.

Upacara kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan. Di dalamnya terkandung nilai nasionalisme, patriotisme, persatuan, tanggung jawab kebangsaan, dan religiusitas.

Karena itu, momentum kemerdekaan semestinya menjadi ruang refleksi: sudah sejauh mana kemerdekaan yang diperjuangkan para pendahulu benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat?

Nasionalisme dan Tantangan Kemerdekaan.

Nasionalisme tidak cukup diwujudkan dengan rasa bangga terhadap bangsa dan negara. Cinta tanah air harus hadir melalui tindakan nyata, termasuk pengabdian dan pengorbanan demi kepentingan masyarakat.

Jika dahulu para pejuang menghadapi penjajahan secara fisik, kini bangsa Indonesia menghadapi bentuk penjajahan yang lebih kompleks, seperti kemiskinan, ketimpangan, materialisme, penyalahgunaan kekuasaan, dan korupsi.

Para pendahulu bangsa telah memberikan teladan bahwa kemerdekaan membutuhkan pengorbanan jiwa, raga, pikiran, waktu, bahkan harta. Mereka berjuang bukan untuk menikmati hasil kemerdekaan bagi dirinya sendiri, melainkan demi kehidupan yang lebih adil, tenteram, dan sejahtera bagi generasi berikutnya.

Prof. Dr. Drs. H. Muh. Hizbul Muflihin, M.Pd. - Guru Besar Administrasi Pendidikan UIN Saizu Purwokerto ( Foto : Dok.Pribadi).

Di sinilah terlihat perbedaan antara semangat para pejuang dengan perilaku sebagian orang yang justru menggunakan kemerdekaan dan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Korupsi sebagai Pengkhianatan Amanah

Indonesia memiliki kekayaan alam dan sumber daya manusia yang semestinya dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun, ketika kepentingan bersama tergeser oleh kepentingan pribadi atau kelompok, cita-cita kemerdekaan dapat kehilangan arah.

Korupsi menjadi salah satu bentuk nyata penyalah gunaan kekuasaan, yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi sarana memperoleh keuntungan pribadi.

Anggaran yang semestinya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, dan pelayanan publik dapat kehilangan manfaatnya ketika disalah gunakan.

Karena itu, korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Korupsi berarti mengkhianati kepercayaan masyarakat sekaligus merampas hak rakyat.

Spiritualitas sebagai Pengendali Diri
Dalam konteks tersebut, spiritualitas diri menjadi penting. Spiritualitas bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kesadaran batin bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral dan pertanggung jawaban di hadapan Tuhan.

Seseorang yang memiliki kesadaran spiritual memahami bahwa jabatan bukan milik pribadi, kekuasaan bukan fasilitas untuk memperkaya diri, dan harta negara bukan milik pejabat. Semuanya merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Momentum HUT Kemerdekaan RI dapat menjadi ruang introspeksi. Jika dahulu para pejuang mempertaruhkan nyawa untuk mengusir penjajah, generasi sekarang harus berani melawan bentuk penjajahan baru yang merusak bangsa dari dalam. Korupsi adalah salah satunya.

Tiga Kesadaran dalam Mengisi Kemerdekaan
Peringatan HUT Kemerdekaan RI dapat menjadi momentum membangun tiga kesadaran.

Pertama, menahan diri. Para pemimpin dan penyelenggara negara perlu mampu mengendalikan godaan kekuasaan dan materi. Ketaatan kepada Tuhan harus berjalan seiring dengan ketaatan terhadap hukum.

Kedua, hidup qanaah. Jabatan dan kekuasaan tidak boleh menjadi sarana memenuhi seluruh keinginan pribadi. Qanaah berarti mampu menerima hak secara proporsional tanpa mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Ketiga, menyadari bahwa jabatan adalah amanah. Setiap jabatan memiliki batas waktu. Kekuasaan berakhir, harta ditinggalkan, dan manusia pada akhirnya menghadapi kematian.

Karena itu, ukuran keberhasilan pemimpin bukan seberapa banyak kekayaan yang dikumpulkan, tetapi seberapa besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Merdeka dari Korupsi
Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 seharusnya tidak hanya dirayakan dengan kemeriahan, tetapi juga direnungkan dengan jernih.

Apakah kemerdekaan telah menjadikan kita lebih jujur, adil, bertanggung jawab, dan peduli kepada sesama?

Jika dahulu para pejuang melawan penjajahan dengan senjata dan pengorbanan jiwa, kini perjuangan dilanjutkan dengan integritas, ilmu pengetahuan, kerja keras, kepedulian sosial, serta keberanian melawan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Spiritualitas penting karena hukum saja tidak selalu cukup mengendalikan manusia. Hukum dapat memberikan sanksi ketika pelanggaran terbukti, sementara spiritualitas membangun kesadaran dari dalam diri.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan bangsa lain, tetapi juga terbebas dari keserakahan, ketidak adilan, penyalah gunaan kekuasaan, dan tindakan yang merampas hak orang lain.

Maka, peringatan HUT Kemerdekaan RI hendaknya tidak berhenti pada pengibaran bendera dan seremoni. Jadikan momentum tersebut sebagai “upacara batin” untuk menghidupkan kembali nilai kejujuran, amanah, keadilan, nasionalisme, dan spiritualitas.

Indonesia yang benar-benar merdeka bukan hanya Indonesia yang bebas dari penjajahan, tetapi Indonesia yang rakyatnya terbebas dari ketidak adilan dan hidup dalam kesejahteraan: merdeka dari korupsi, merdeka dari keserakahan, dan merdeka untuk menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berita terkait

Jihan Nurlela Terima Penghargaan Tokoh Muda Di Bidang Kewirausahaan, JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026

Jihan Nurlela Terima Penghargaan Tokoh Muda Di Bidang Kewirausahaan, JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026

Jakarta - Spektroom: Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan pentingnya membangun ekosistem usaha yang mampu mempersiapkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Lampung untuk menembus pasar global. Selain meningkatkan kualitas produk, UMKM perlu memiliki pola pikir global, akses pasar, pembiayaan, pemenuhan standar, serta kapasitas produksi yang konsisten untuk memenuhi kebutuhan ekspor

Anggoro AP
Bedah Ranperda Keolahragaan Sumbar, 118 Pasal Disiapkan untuk Lindungi Insan Olahraga

Bedah Ranperda Keolahragaan Sumbar, 118 Pasal Disiapkan untuk Lindungi Insan Olahraga

Padang-Spektroom : Sebanyak 118 pasal dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Keolahragaan Sumatera Barat mulai dikaji secara terperinci oleh Komisi V DPRD Sumbar bersama mitra kerja. Pembahasan diarahkan untuk menghasilkan regulasi yang memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat pembinaan olahraga di daerah. Pembahasan berlangsung alot melalui rapat kerja di Ruang

Rafles