Literasi Koperasi bagi Lansia, Kurangi Kerentanan Finansial Agar tidak Bebani Keluarga
Jakarta - Spektroom: Indonesia telah memasuki fase penuaan penduduk, berdasarkan hasil survei penduduk tahun 2025, menunjukkan bahwa persentasi penduduk lansia telah mencapai 11,97 persen, yang artinya 1 dari 8 penduduk Indonesia adalah lansia.
Kondisi ini menunjukkan, perlunya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar kualitas hidup lansia dapat meningkat dan lansia dapat menjalani kehidupan secara mandiri, sejahtera, dan bermartabat.
Hal itu dikemukakan Pelaksana tugas Direktur Bina Ketahanan Keluarga Lanjut Usia Kemendukbangga/BKKBN Elsa Pongtuluran, pada virtual meeting Literasi Koperasi bagi Lansia, melalui zoom meet, Jum'at 23 Oktober 2026.
Menurut Elsa, upaya peningkatan kualitas hidup Lansia dapat mencakup dari berbagai aspek, baik dari fisik, sosial, dan ekonomi. Penguatan ekonomi menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi kerentanan finansial agar Lansia tidak menjadi beban bagi keluarganya. "Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi rencana aksi senergi peta jalan pembangunan kependudukan (PJPK) tahun 2026 pada indikator indeks lansia berdaya dengan target seribu orang memperoleh paparan mengenai literasi kooperasi, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan literasi perkooperasian bagi Lansia serta keluarga atau pendamping Lansia" ujar Elsa dalam laporannya.
Sementara diforum yang sama Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti menyampaikan bahwa saat ini kita berada pada momentum sejarah yang sangat menentukan.
Disatu sisi menikmati bonus demografi dengan melimpahnya usia produktif, namun di sisi lain, struktur kependudukan sedang melaju pesat menuju pas se-aging population.
"Tadi disampaikan oleh Bu Elsa, bahwa penduduk lansia saat ini telah menembus di angka 11,97 persen untuk populasi atau jumlah penduduk lansia 60 tahun ke atas. Dan ini diproyeksikan akan terus meningkat secara signifikan pada beberapa dekade mendatang" Ujar Nopian Andusti.
Kondisi ini lanjut Nopian, membawa pesan mendalam, pembangunan kependudukan tidak boleh hanya berfokus pada usia muda, tetapi harus inklusif memayungi seluruh tahapan siklus hidup manusia, termasuk para lansia.
"Melalui kesempatan yang baik ini, Kementerian Keperdukan dan Panggungan Keluarga /BKKBN ingin menegaskan kembali secara lugas bahwa paradigma kuno tersebut harus kita ubah dan akhiri" tandasnya.
Menurutnya, para lansia bukan sekedar pemangku kenangan masa lalu, melainkan penentu kualitas peradaban masa depan.
"Pengalaman hidup, kearifan lokal, ketajaman intuisi, dan ketampilan yang dimiliki oleh para lansia adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya" katanya lagi.

Literasi Koperasi bagi Lansia tersebut selain menampilkan Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, sebagai pembicara utama juga Tenaga Ahli dan Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) Kemenkop, Anton Ragil Susilo memaparkan tentang Anyaman Kesejahteraan, Merajut Kemandirian Dimasa Depan : "Literasi Perkoperasian Berbasis Azas Kekeluargaan Untuk Lansia" (@Ng).