Menikmati Jejak Mozart dan Gaung The Sound of Music di Salzburg

Menikmati Jejak Mozart dan Gaung The Sound of Music di Salzburg
Syafaruddin Daeng Usman dan Istri saat mengunjungi Salzburg di Eropa. Menyambangi Museum WA Mozart komponis legendaris dunia. (Foto: Dok Pribadi)

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman

Salzburg-Spektroom : Ada kota-kota yang memikat karena kemegahannya. Ada pula kota yang menawan karena berhasil menjaga kenangan.

Salzburg, di barat Austria, adalah salah satu kota yang membuat waktu seakan berjalan lebih lambat.

Di sinilah musik, sejarah, dan keindahan alam berpadu menjadi sebuah simfoni yang tak pernah usai.

Pagi itu, langkah saya menyusuri Getreidegasse, jalan batu yang menjadi urat nadi Kota Tua Salzburg. Deretan bangunan berusia ratusan tahun berdiri anggun di kanan kiri jalan.

Papan nama toko dari besi tempa bergaya klasik bergoyang perlahan diterpa angin musim panas.

Suasana itu menghadirkan kesan seolah saya sedang berjalan menembus lorong waktu menuju Eropa abad lampau.

Salzburg memang bukan sekadar kota wisata. Kota ini adalah panggung besar tempat sejarah dan seni memainkan perannya sejak berabad-abad lalu. Dari kejauhan tampak Kastel Hohensalzburg berdiri kokoh di atas Bukit Festungsberg.

Benteng yang dibangun sejak tahun 1077 itu seperti penjaga setia yang mengawasi kota tua, Sungai Salzach, hingga hamparan Pegunungan Alpen yang memutih oleh salju.

Di pusat kota tua, Residenzplatz menjadi ruang terbuka yang hidup.

Air mancur Residenzbrunnen yang megah berdiri di tengah plaza, menjadi saksi perjalanan panjang Salzburg dari masa pemerintahan para Prince Bishop hingga menjadi bagian dari Austria modern.

Namun bagi banyak orang, Salzburg memiliki daya tarik yang lebih emosional.

Kota ini adalah rumah bagi Wolfgang Amadeus Mozart, salah satu komponis terbesar sepanjang sejarah manusia. Setiap sudut kota seolah masih menyimpan gema karya-karyanya.

Ketika tiba di Mozart Geburtshaus, rumah kelahiran Mozart yang bercat kuning cerah, saya merasakan getaran yang sulit dijelaskan.

Di bangunan sederhana inilah, pada 27 Januari 1756, lahir seorang anak yang kelak mengubah wajah musik dunia.

Di dekat pintu, sebuah plakat tembaga mencatat peristiwa bersejarah itu. Saya berhenti cukup lama membacanya.

Di tengah arus wisatawan yang datang dan pergi, rumah tua itu tetap berdiri tenang, dirawat dengan penuh penghormatan oleh generasi demi generasi.

Salzburg juga mengingatkan dunia pada film musikal legendaris The Sound of Music.

Melodi-melodi yang pernah mengisi layar lebar terasa masih bergaung di antara gereja tua, lorong-lorong batu, dan kafe-kafe klasik yang tersebar di kota ini.

Saat senja mulai turun, saya berdiri di tepi Sungai Salzach.
Cahaya keemasan memantul di permukaan air, sementara lonceng gereja berdentang dari kejauhan.
Pada momen itulah saya memahami mengapa Salzburg begitu dicintai.

Kota ini bukan hanya menawarkan pemandangan indah, melainkan menghadirkan pengalaman yang menyentuh jiwa—tempat sejarah, musik, dan kenangan berpadu menjadi sebuah karya seni yang hidup.

*Syafaruddin Daeng Usman adalah Sejarawan Kalbar.

Berita terkait

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Sawahlunto–Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia menyalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) senilai Rp136 juta kepada kelompok masyarakat rentan di Kota Sawahlunto. Penyaluran bantuan tersebut berlangsung pada Kamis (30/7/26) dan dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sawahlunto Rovanly Abdams, mewakili Wali Kota Sawahlunto. Program ATENSI

Riswan Idris, Rafles