Menyusuri Makna Sumbu Filosofi dari Stasiun Tugu Yogyakarta

Menyusuri Makna Sumbu Filosofi dari Stasiun Tugu Yogyakarta
Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo secara resmi membuka pameran bertajuk"Sumbu Filosofi" sekaligus peringati Hari Pusaka Dunia berlangsung di Stasiun Tugu Yogyakarta,Sabtu(18/4/26). Foto: Fatmawati

YOGYAKARTA — Hiruk pikuk penumpang di Stasiun Yogyakarta akhir pekan ini terasa sedikit berbeda. Di antara suara kedatangan dan keberangkatan kereta, Lobi Timur stasiun menghadirkan ruang hening yang mengajak siapa pun sejenak berhenti—menyusuri makna sejarah dan filosofi Kota Gudeg melalui pameran “Sumbu Filosofi Yogyakarta: Penanda Sejarahnya”.

Digelar pada 18–19 April 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Pusaka Dunia, pameran ini tidak sekadar menampilkan karya visual. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, memperkenalkan kembali Sumbu Filosofi Yogyakarta—sebuah konsep tata ruang yang dirancang Sri Sultan Hamengkubuwana I pada 1755, yang sarat nilai spiritual, budaya, dan kosmologi Jawa.

Menariknya, pameran ini lahir dari kolaborasi lintas negara dan disiplin ilmu. TU Wien Austria, Universitas Gadjah Mada, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, PT KAI Daop 6 Yogyakarta, serta Dinas Kebudayaan DIY bersatu menghadirkan perspektif yang beragam namun saling melengkapi.

Sebanyak 30 mahasiswa dari bidang seni, bahasa, hingga arsitektur terlibat langsung, menjadikan pameran ini kaya sudut pandang—tidak hanya estetis, tetapi juga ilmiah dan naratif.

Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo usai peresmian langsung berjabat tangan dengan EVP Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo di Stasiun Tugu Yogyakarta,Sabtu(18/4/26). Foto: Fatmawati.

Bagi para pengunjung, pengalaman yang ditawarkan terasa dekat dan membumi. Di tengah ruang publik yang biasa digunakan untuk mobilitas, mereka diajak memahami bahwa Stasiun Yogyakarta bukan sekadar titik transit, melainkan bagian dari jalur imajiner yang menyimpan makna filosofis mendalam—membentang dari selatan ke utara, menyatukan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang membuka pameran ini, menilai kolaborasi semacam ini menjadi langkah penting dalam menanamkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan kearifan lokal.

Menurutnya, Sumbu Filosofi bukan hanya warisan fisik, tetapi juga nilai yang harus terus hidup dalam kesadaran masyarakat.
Di sisi lain, PT KAI Daop 6 Yogyakarta memanfaatkan momentum ini untuk memperluas fungsi stasiun sebagai ruang publik berbasis budaya.

Stasiun tidak lagi hanya menjadi tempat datang dan pergi orang, tetapi juga ruang belajar, ruang interaksi, dan ruang apresiasi.
Melalui pameran ini, perjalanan di Stasiun Yogyakarta menjadi lebih dari sekadar perpindahan.

Ia berubah menjadi pengalaman reflektif—mengajak setiap orang memahami bahwa di balik padatnya aktivitas, tersimpan jejak sejarah panjang dan filosofi hidup yang terus relevan hingga hari ini. (Fatmawati).

Berita terkait