Monumen R. Soetedjo di Stasiun Purwokerto, Upaya Mengenalkan Maestro Musik kepada Generasi Muda
Purwokerto-Spektroom : Pemasangan monumen Raden Soetedjo di Stasiun Purwokerto mendapat apresiasi dari Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) periode 2010–2015, Niken Widiastuti.
Monumen tersebut dinilai menjadi bentuk penghargaan terhadap seniman sekaligus sarana mengenalkan sosok maestro musik kepada generasi muda.
Niken yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Pers menilai, keberadaan monumen itu dapat mengingatkan masyarakat pada sosok pencipta lagu Di Tepinya Sungai Serayu, yang hingga kini masih akrab di telinga masyarakat, khususnya pengguna jasa kereta api di Purwokerto.
“Wow... Bagus sekali, salah satu penghargaan pada seniman, sekaligus masyarakat khususnya generasi kita dan generasi muda akan tahu siapa pencipta lagu Di Tepinya Sungai Serayu yang tetap enak didengar walau diciptakan beberapa puluh tahun lalu,” ujar Niken, Rabu (21/10/2026).
Menurut Niken, langkah PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 5 Purwokerto tersebut menunjukkan kepedulian terhadap karya dan perjalanan hidup seniman yang pernah berkontribusi dalam perkembangan musik melalui RRI.
Raden Soetedjo tercatat pernah menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto pada 1946. Dua tahun kemudian, ia memelopori berdirinya Orkes Studio Djakarta (OSD), yang terlibat dalam perekaman lagu kebangsaan Indonesia Raya dan menjadi cikal bakal Jakarta Philharmonic Orchestra.
Pada 1950, Soetedjo juga bergabung dengan Korps Musik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) hingga memperoleh pangkat kehormatan Letnan Muda Udara I.
Kiprahnya di bidang seni turut mendapat pengakuan melalui penghargaan dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada 1968.
Vice President KAI Daop 5 Purwokerto, Rangga Putra Maulana, mengatakan monumen tersebut merupakan bentuk penghargaan atas kontribusi R. Soetedjo, yang karyanya telah menjadi bagian dari pengalaman perjalanan pelanggan kereta api.
Menurut Rangga, lagu Di Tepinya Sungai Serayu bukan sekadar penanda kedatangan kereta di Stasiun Purwokerto, tetapi juga bagian dari identitas perjalanan masyarakat.
Ia turut mengapresiasi keluarga dan ahli waris R. Soetedjo yang tidak menarik royalti atas penggunaan lagu tersebut.
Melalui monumen ini, KAI berharap penumpang dari berbagai daerah dapat mengenal lebih dekat sosok R. Soetedjo dan warisan musik Banyumas.
Dengan demikian, stasiun tidak hanya menjadi tempat orang datang dan pergi, tetapi juga ruang untuk mengenal sejarah serta kebudayaan daerah.