MUI Kalsel Gelar Dialog Mitigasi Bencana Dengan Tema Agama dan Kerusakan Lingkungan di Banua

MUI Kalsel Gelar Dialog Mitigasi Bencana Dengan Tema Agama dan Kerusakan Lingkungan di Banua
Dialog mitigasi agama yang digelar MUI Kalsel.(Foto MUI Kalsel)

Banjarmasin-Spektroom : Menghadirkan sejumlah narasumber yang mengerti permasalahan lingkungan, MUI Kalsel, Bidang Kerukunan Umat Beragama, menggelar dialog lingkungan di sebuah restoran, Sabtu, 26 September 2026.

Tema yang diangkat, “Agama dan Kerusakan Lingkungan di Banua”, menghadirkan Raden Rafiq Sepdian (Ditektur Walhi Kalsel); Anang Suriani (Tokoh Adat Dayak Pitap); M. Syaripuddin (Anggota DPRD Provinsi Kalsel); dan Prof Mujiburrahman (Akademisi UIN Antarasi). Dialog dipandu Bayani Dahlan, Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Kalsel.

Sejumlah isu diangkat, terutama berbagai persoalan ekologi yang berdampak pada kondisi lingkungan, sosial dan ekonomi. Kerusakan lingkungan begitu laju, sementara upaya pemulihannya sangat tidak memadai.

“Perlu menjadi perhatian, sebab 51% wilayah Kalsel sudah dibebani izin pertambangan dan sawit, berdampak pada rusaknya lingkungan. Luasan dan kerusakan ini dari waktu ke waktu akan terus bertambah, jangan heran kalau sekarang sudah terjadi krisis pangan, air dan energi. Padahal 70% batu bara dikirim ke luar negeri dan Kalsel tidak dapat apapun selain kerusakan lingkungan”, kata Raden Rafiq Sepdian (Ditektur Walhi Kalsel).

Raden Rafiq memaparkan sejumlah data dan fakta yang dikumpulkan Walhi, dia meminta perhatian semua pihak sebab kerusakan yang ditimbulkan menimpa siapa saja, termasuk semua agama yang ada di Kalsel.

Anang Suriani, memaparkan berbagai kearifan yang dimiliki masyarakat adat dalam mengelola lingkungan. “Bagi kami merusak lingkungan itu pamali, masyarakat adat sangat takut dengan pamali, karena diajarkan sejak kecil tentang konsep tersebut, sehingga tidak mungkin merusak lingkungan. Sebab itu, jangan tuduh masyarakat adat sebagai pelaku pembakaran hutan, kami manyalukut lahan dalam rangka menyuburkan tanah untuk pertanian, bukan untuk merusaknya”.

M. Syaripuddin, akrab disapa Bang Din, anggota DPRD Provinsi Kalsel, memaparkan sejumlah regulasi yang dimiliki pemerintah daerah dalam soal pengelolaan lingkungan, termasuk kelembagaan dan para ahli yang menurutnya sudah sangat cukup, hanya saja dia turut bertanya, kenapa kondisi lingkungan semakin buruk?

Bang Din mengajak semua pihak untuk bersuara, sehingga berbagai persoalan lingkungan menjadi perhatian bersama.

“Tugas kami di DPRD menyiapkan regulasi, melakukan pengawasan dan menyiapkan anggaran, semua itu akan efektif bila melibatkan parsitipasi warga dalam pelaksanaannya, terutama para tokoh agama”.

Sementara itu, Prof Mujiburrahman, meyakini sebab dari kerusakan lingkungan dikarenakan ekonomi politik yang berbiaya mahal.

“Bagaimana mungkin tidak minta bantu pengusaha tambang, kalau untuk jadi anggota DPR, DPRD dan kepala daerah, harus mengeluarkan biaya yang begitu besar. Tanpa duit, mustahil akan dipilih. Sehingga segala cara untuk mendapatkan dana kampanye harus dilakukan, termasuk dengan merangkul para perusak lingkungan”.

Dr Nasrullah, Sekretaris Umum MUI Kalsel, menyampaikan bahwa dialog yang diselenggarakan MUI tersebut, dalam rangka mitigasi bencana.

“MUI Kalsel ingin mengambil peran turut meminimalkan dampak kerusakan ekologi. Dengan dialog ini, yang merupakan bagian dari mitigasi becana, diharapkan ada langkah-langkah yang dapat diambil, sehingga bencana tidak semakin parah dan tidak berulang setiap waktu”, kata Nasrullah.*****

Berita terkait

Perayaan Maulid Nabi dan Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026 di Masjid Raya Al-Bakrie

Perayaan Maulid Nabi dan Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026 di Masjid Raya Al-Bakrie

Bandarlampung - Spektroom: Pembangunan Lampung tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dan gedung. Menurutnya, pembangunan manusia, terutama pembentukan generasi yang memiliki iman dan akhlak, menjadi bagian penting dalam mewujudkan generasi emas. Hal itu disampaikan Gubernur Mirza pada Perayaan Maulid Nabi sekaligus penutupan Maulid Arbain Lampung 2026

Anggoro AP
Masjid Tak Sekadar Tempat Ibadah, Kemenag Perkuat Fungsi Sosial dan Ekonomi

Masjid Tak Sekadar Tempat Ibadah, Kemenag Perkuat Fungsi Sosial dan Ekonomi

Jakarta — Spektroom: Masjid diharapkan tidak berhenti sebagai ruang ibadah, tetapi tumbuh menjadi pusat pemberdayaan yang menyentuh langsung kehidupan jamaah. Fungsi itu mencakup penguatan ekonomi, kepedulian lingkungan, hingga penyediaan layanan yang ramah bagi anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad mengatakan, pemberdayaan rumah ibadah

Irvan Idris Saleh, Anggoro AP