Nyaris Punah, Tiga Kesenian Langka Sijunjung Bangkit Lagi, Ratusan Pelajar Turun Panggung Selamatkan Warisan Leluhur

Nyaris Punah, Tiga Kesenian Langka Sijunjung Bangkit Lagi,  Ratusan Pelajar Turun Panggung Selamatkan Warisan Leluhur
Regenerasi Kesenian Tradisional Hampir Punah Kabupaten Sijunjung." (Kolase Foto Riswan/Spektroom)

Sijunjung–Spektroom : Kekhawatiran akan punahnya sejumlah kesenian tradisional di Kabupaten Sijunjung dijawab dengan sebuah aksi nyata yang menggugah. Suasana Ruang Terbuka Hijau (RTH) Muaro mendadak dipenuhi semangat pelestarian budaya pada Sabtu malam (25/7/26), ketika Sanggar Puti Junjung menggelar pertunjukan sekaligus pendokumentasian bertajuk "Regenerasi Kesenian Tradisional Hampir Punah Kabupaten Sijunjung."

Kegiatan tersebut merupakan hasil kurasi dan fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat sebagai bagian dari upaya melindungi objek pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Malam itu, publik kembali disuguhkan tiga warisan budaya yang selama ini mulai jarang dipentaskan, yakni Dendang Buai Anak dari Nagari Sijunjung, Rabab Badoi dari Nagari Muaro, serta Tari Tangan dari Nagari Padang Laweh.

Tak sekadar pertunjukan, acara tersebut menjadi momentum penting untuk memastikan estafet kebudayaan berpindah ke tangan generasi muda.

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian adalah Tari Tangan Massal yang melibatkan seniman tradisional bersama sekitar 100 pelajar dan mahasiswa. Kolaborasi lintas generasi itu menjadi simbol bahwa warisan budaya tidak boleh berhenti pada para maestro, tetapi harus hidup di tengah generasi penerus.

Penggagas kegiatan dari Sanggar Puti Junjung, Yola Oksandra, S.Pd., mengungkapkan kondisi memprihatinkan sejumlah kesenian tradisional di Sijunjung.

"Regenerasi ini sangat mendesak. Rabab Badoi saat ini hanya tinggal memiliki satu orang maestro. Sementara Tari Tangan pernah mengalami masa sulit karena kehilangan pemusik aslinya. Jika tidak segera diwariskan, bukan tidak mungkin kesenian ini benar-benar hilang," ujar Yola.

Menurutnya, pendokumentasian menjadi bagian penting dalam penyelamatan budaya agar teknik, musik, gerak, hingga nilai filosofisnya tetap tersimpan sebagai referensi bagi generasi mendatang.

Selain pertunjukan seni, acara juga diisi dengan penyerahan sertifikat penghargaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat kepada para pelaku seni tradisional sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka menjaga identitas budaya Sijunjung selama puluhan tahun.

Hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Sijunjung, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, drg. Ezwandra, M.Sc, menyampaikan apresiasi atas inisiatif komunitas seni yang mampu menggerakkan masyarakat untuk mencintai budaya daerah.

Menurutnya, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, dan para pelaku seni.

"Warisan budaya adalah identitas daerah yang harus dijaga bersama. Pemerintah Kabupaten Sijunjung mendukung berbagai upaya pelestarian budaya yang sejalan dengan falsafah Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, sehingga nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman," ujarnya.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan kalangan akademisi dan lembaga pendidikan yang mendorong keterlibatan generasi muda sebagai pelaku utama dalam proses regenerasi.

Secara nasional, langkah yang dilakukan Sanggar Puti Junjung dinilai sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ekosistem kebudayaan melalui program pemajuan kebudayaan. Pendokumentasian terhadap kesenian tradisional menjadi salah satu strategi penting agar warisan budaya tak benda tetap lestari, dapat dipelajari, dan dikembangkan sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai autentiknya.

Antusiasme masyarakat yang memadati kawasan RTH Muaro sepanjang pertunjukan menunjukkan bahwa seni tradisi masih memiliki tempat di hati publik ketika dikemas secara menarik dan melibatkan generasi muda.

Malam regenerasi tersebut menjadi pesan kuat bahwa menyelamatkan budaya tidak cukup hanya dengan mengenangnya, tetapi harus diwujudkan melalui proses pewarisan yang berkelanjutan.

Dengan sinergi antara komunitas seni, pemerintah daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan, serta dunia pendidikan, harapan agar Rabab Badoi, Dendang Buai Anak, dan Tari Tangan tetap hidup di masa depan kini kembali menyala. Sebab, ketika generasi muda mulai mencintai warisan leluhurnya, sesungguhnya budaya telah menemukan jalan untuk terus bertahan melintasi zaman.(Ris1)

Berita terkait

Festival Tanah Seribu, Upaya Menghidupkan Jejak Sejarah Awal Berdirinya Pontianak

Festival Tanah Seribu, Upaya Menghidupkan Jejak Sejarah Awal Berdirinya Pontianak

Pontianak - Spektroom : Pemerintah Kota Pontianak mendorong kawasan Tanah Seribu atau Duizend Vierkante Paal menjadi ikon budaya dan sejarah yang merepresentasikan perjalanan panjang lahirnya Kota Pontianak. Kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan Kesultanan Pontianak dan pemerintahan kolonial itu dinilai menyimpan warisan penting yang masih relevan untuk dikenalkan kepada generasi masa

Apolonius Welly, Anggoro AP
Saat Ekonomi Umat Menjadi Harapan, MES Palangka Raya Resmi Mengemban Amanah Baru

Saat Ekonomi Umat Menjadi Harapan, MES Palangka Raya Resmi Mengemban Amanah Baru

Palangka Raya-Spektroom: Di masa tantangan ekonomi yang terus berubah, harapan akan tumbuhnya usaha yang adil, beretika, dan menyejahterakan masyarakat semakin menguat. Bagi pelaku UMKM, pedagang kecil, hingga wirausahawan, ekonomi yang bertumpu pada kejujuran, kemitraan, dan keberkahan diyakini menjadi salah satu jalan menuju kesejahteraan bersama. Semangat itulah yang mewarnai pelantikan Pengurus

Polin, Anggoro AP