Pascabencana 2025, BI Dorong Akselerasi Ekonomi Sumbar
Spektroom - Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mendorong pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada tahun 2026. Upaya ini dilakukan setelah perekonomian daerah tersebut mengalami perlambatan dan tekanan akibat bencana alam yang terjadi di penghujung tahun 2025.
Kepala Perwakilan BI Sumatera Barat, Abdul Majid Ikram, menyebut bahwa tahun 2025 sebagai tahun penuh tantangan bagi perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya berada di kisaran 3,5 hingga 4,1 persen, lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Tekanan tersebut dipicu penurunan luas panen padi, perlambatan sektor konstruksi, serta inflasi akibat cuaca ekstrem.
“Produksi pertanian menjadi terganggu karena cuaca ekstrem sehingga memicu inflasi pada komoditas beras, bawang merah, dan cabai merah,” ujar Abdul Majid Ikram dalam Dialog Ekonomi di Padang, Senin (19/01/2026).
Selain itu, lanjut Abdul Majid, sektor konstruksi makin melemah akibat kebijakan efisiensi anggaran sepanjang tahun 2025 dan minimnya investasi infrastruktur.
“Sejak peresmian jalan tol pada tahun 2024, praktis tidak ada investasi infrastruktur yang signifikan,” kata Abdul Majid, seraya menekankan pentingnya dukungan anggaran pusat.
Untuk membalikkan kondisi itu, Bank Indonesia mengidentifikasi perdagangan, transportasi, dan konstruksi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi tahun 2026. Jika ketiga sektor tersebut dioptimalkan, pertumbuhan ekonomi Sumbar diproyeksikan meningkat ke kisaran 3,8 hingga 4,6 persen secara tahunan.