Pemerintah Sinkronkan Infrastruktur AI dan Energi, Kebutuhan Listrik Data Center 20 Gigawatt
Bali-Spektroom : Pemerintah menyinkronkan pembangunan infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) dengan kesiapan energi nasional. Koordinasi ini diperlukan untuk memastikan keberlanjutan pusat data dan AI Factory.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan pembangunan AI Factory dan data center tidak bisa direncanakan terpisah sektor per sektor, melainkan harus dalam koordinasi kuat.
"Hal-hal terkait dengan pembangunan AI Factory, termasuk data center AI Factory, itu harus dilakukan tidak lagi secara terpisah sektor per sektor, tapi dalam sebuah koordinasi yang kuat," ujar Meutya dalam Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Senin (19/10/2026).
Menurut Meutya, koordinasi dengan Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi menjadi strategis karena ekosistem energi merupakan fondasi keberlangsungan pengembangan AI.
Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan akan memetakan lokasi pembangunan data center agar suplai energi bisa langsung disediakan.
"Saya akan minta data lokasi dari teman-teman yang akan membangun data center, supaya supply energinya itu bisa langsung disediakan," kata Bahlil.
Bahlil menyebut kebutuhan tambahan daya untuk pusat data diperkirakan mencapai 20 gigawatt atau 20.000 megawatt.
Selain energi, pemerintah akan menata investasi pusat data agar memberi manfaat luas. Investasi teknologi tinggi membutuhkan modal besar namun serapan tenaga kerja langsung terbatas, sementara operasional membutuhkan listrik dan air signifikan.
"Kita akan membuat satu regulasi yang win-win. Kita silakan mereka masuk, tapi juga hargai, dan bagaimana berkolaborasi dengan pengusaha nasional, pengusaha daerah di mana investasi itu akan dilakukan," tegas Bahlil.
Menurutnya, investasi berkualitas adalah investasi yang bersinergi, tidak hanya soal nilai uang. Investor asing dipersilakan, namun harus memberi ruang bagi pengusaha lokal dan daerah agar manfaat ekonomi dirasakan masyarakat sekitar. (RRE/Diut)