Pemerintahan Digital Beresiko jadi "Sangkar Besi", Perlu Hukum Jelas dan Tetap Berkeadilan

Pemerintahan Digital Beresiko jadi "Sangkar Besi", Perlu Hukum Jelas dan Tetap Berkeadilan
Prof Dr.H.Abd.Latief SH.MH. (Foto: Koleksi Pribadi)

Spektroom - Akademisi dan Dosen Program Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Jayabaya, Prof. Abdul Latif, mengingatkan bahwa penerapan pemerintahan digital (e-Government/Digital Governance) membawa manfaat besar, tetapi juga menyimpan risiko serius jika tidak diatur dengan hukum yang jelas.

Hal itu disampaikannya dalam Seminar Internasional bertema “Law Enforcement of Government Actions in the Digital Age” yang digelar di Gedung Rektorat Universitas Jayabaya, Jakarta.

Dalam siaran Pers yang diterima Redaksi Sabtu 21 Pebruari 2026 Malam, Prof Abdul Latif mengatakan, digitalisasi telah mengubah cara pemerintah mengambil keputusan. Jika sebelumnya keputusan dibuat langsung oleh pejabat, kini banyak keputusan dihasilkan oleh sistem dan algoritma.

“Masalahnya, ketika sistem yang mengambil keputusan, batas tanggung jawab hukum menjadi tidak jelas. Jika sistem salah, siapa yang bertanggung jawab? Pejabatnya, pembuat programnya, atau institusinya?” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintahan digital membuat birokrasi menjadi lebih cepat, pasti, dan efisien. Sistem bekerja berdasarkan data dan kode, bukan perasaan atau kepentingan pribadi. Hal ini dinilai positif karena dapat mengurangi praktik korupsi, suap, dan nepotisme.

Namun di sisi lain, sistem digital juga bisa menjadi terlalu kaku.

“Kalau satu syarat saja tidak lengkap, sistem langsung menolak. Padahal bisa saja masyarakat memang dalam kondisi darurat atau memiliki alasan khusus. Sistem tidak bisa memahami kondisi manusia,” jelasnya.

Ia mencontohkan sistem perizinan digital yang otomatis menolak permohonan jika dokumen tidak lengkap, tanpa ruang pertimbangan.

Menurutnya, kondisi ini dapat menciptakan apa yang disebut sebagai “sangkar besi digital”, yaitu ketika masyarakat terjebak dalam aturan sistem yang kaku dan tidak manusiawi.

Prof Abdul Latif menegaskan bahwa dalam pemerintahan digital, diskresi atau kebijakan tidak benar-benar hilang, tetapi berpindah ke pembuat sistem.

“Yang membuat program sebenarnya yang menentukan keputusan, karena semua sudah diatur dalam kode sejak awal,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa penguasaan data dan sistem digital bisa menjadi sumber kekuasaan baru.

Karena itu, ia menekankan pentingnya hukum pemerintahan digital untuk memastikan adanya kejelasan tanggung jawab jika terjadi kesalahan, tetap adanya peran manusia dalam keputusan penting, perlindungan hak masyarakat dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan melalui sistem digital

“Pemerintahan digital memang penting untuk kemajuan, tetapi jangan sampai teknologi justru membuat pelayanan menjadi tidak adil. Sistem harus membantu manusia, bukan menggantikan keadilan,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah dapat membangun sistem digital yang tidak hanya cepat dan efisien, tetapi juga adil, manusiawi, dan bertanggung jawab secara hukum.

Berita terkait

Sensus Ekonomis Langkah Penting Untuk Memperoleh Data Yang Akurat Tentang Kondisi Ekonomi Masyarakat

Sensus Ekonomis Langkah Penting Untuk Memperoleh Data Yang Akurat Tentang Kondisi Ekonomi Masyarakat

Bogor-Spektroom : Rudy Susmanto, melakukan pendataan perdana Sensus Ekonomi 2026 bersama Kepala BPS Kabupaten Bogor di kediamannya, Senin (15/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kabupaten Bogor. " Dalam kesempatan itu, Rudy Susmanto menyampaikan bahwa Sensus Ekonomi 2026 merupakan langkah penting untuk memperoleh data yang

Asmari, Buang Supeno
Sinergi TNI-Polri Jaga Khidmat 1 Muharram di Landak, Ratusan Jamaah Padati Masjid Nurul Bustanul Jannah

Sinergi TNI-Polri Jaga Khidmat 1 Muharram di Landak, Ratusan Jamaah Padati Masjid Nurul Bustanul Jannah

Landak- Spektroom – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Besar Nurul Bustanul Jannah di Dusun Karya Jaya, Desa Karangan, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak, saat ratusan jamaah memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah melalui pengajian, Selasa (16/06/2026). Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung aman, tertib, dan penuh kekhusyukan dengan pengamanan dari

Apolonius Welly, Buang Supeno
Dolly Ivonne Datuak Intan Sampono, Nahkoda Baru yang Diharapkan Bawa Sepak Bola Bukittinggi Bangkit

Dolly Ivonne Datuak Intan Sampono, Nahkoda Baru yang Diharapkan Bawa Sepak Bola Bukittinggi Bangkit

Bukittinggi –Spektroom : Harapan baru mengalir di tubuh sepak bola Kota Bukittinggi setelah PSSI Sumatera Barat menunjuk Dolly Ivonne Datuak Intan Sampono sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PSSI Kota Bukittinggi. Sosok ini kini menjadi figur sentral yang diharapkan mampu menggerakkan kembali roda pembinaan dan kompetisi sepak bola di Bukittinggi yang sempat

Wiza Andrita, Buang Supeno