Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat, PLN UIP JBB Dukung KISUCI di Desa Cipambuan
Bogor - Spektroom: Di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, sampah perlahan menemukan wajah barunya. Benda yang selama ini identik dengan sesuatu yang harus dibuang, mulai dipandang berbeda. Di tangan masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Iklim Sungai Cikeas (KISUCI), sampah justru dapat diolah menjadi pupuk, pakan ternak, bahan bakar alternatif, hingga produk yang memiliki nilai ekonomi.
Perubahan itu tidak datang begitu saja. Sejak Juni 2026, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Barat (PLN UIP JBB) ikut memperkuat gerakan tersebut melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Dukungan PLN diwujudkan melalui pembangunan bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), sekaligus sosialisasi, pelatihan, peningkatan kapasitas pengelola, dukungan operasional, dan pendampingan.
Bagi KISUCI, pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan kebersihan. Gerakan tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ketua KISUCI, Hayu Susilo Prabowo, mengatakan masyarakat didorong untuk terlibat langsung dalam pengelolaan lingkungan agar memiliki pengetahuan dan kemampuan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
“Kami berupaya membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat melalui pendidikan, pelatihan, serta keterlibatan langsung dalam pengelolaan lingkungan. Sampah tidak lagi dipandang hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi pangan, pupuk, energi, maupun produk bernilai ekonomi,” ujarnya.
Sampah organik, misalnya, diolah melalui biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF). Proses tersebut menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak serta kasgot sebagai bahan pupuk.
Sementara sampah anorganik yang sulit didaur ulang dapat diproses menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF), bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri.
Pola pengelolaan terintegrasi itu membuat sampah tidak berhenti sebagai persoalan yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir. Sebagian dapat kembali menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN UIP JBB, Nur Akhsin, mengatakan dukungan PLN diarahkan untuk memperkuat inisiatif yang telah tumbuh bersama masyarakat.
“KISUCI telah memiliki inisiatif dan pengalaman dalam menggerakkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan. PLN hadir untuk memperkuat inisiatif tersebut melalui dukungan sarana, peningkatan kapasitas, dan pendampingan,” katanya.
Kolaborasi PLN UIP JBB, pemerintah desa, LPM Desa Cipambuan, KISUCI, dan masyarakat juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan manfaat sosial di sekitar wilayah pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, termasuk Proyek GIS 150 kV Sentul Baru.
Lebih dari sekadar membangun fasilitas pengolahan sampah, program tersebut membawa pesan bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana: memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali apa yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Dari Cipambuan, sampah tidak lagi sekadar berakhir sebagai limbah. Ia berpeluang menjadi pupuk, pakan, energi, sekaligus sumber penghidupan.
Harapannya, gerakan tersebut terus tumbuh menjadi kebiasaan bersama: lingkungan semakin bersih, masyarakat semakin berdaya, dan sampah memiliki nilai yang lebih panjang sebelum benar-benar berakhir di tempat pembuangan akhir.