Pesta Adat Yonggway Jadi Tradisi Sakral Pererat Perdamaian Masyarakat Keerom
Keerom-Spektroom : Masyarakat adat di Arso, Kabupaten Keerom, Papua, menggelar Pesta Adat Yonggway yang merupakan rangkaian tradisi inisiasi pendewasaan bagi generasi muda setempat. Tradisi sakral ini juga menjadi sarana untuk mempererat perdamaian antar kampung, mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi muda, sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai bagian dari kehidupan adat.
Kegiatan yang berlangsung di Arso Kota, atau yang dikenal dengan nama adat Kampung Dunugmamoy, diikuti 34 pemuda yang menjalani prosesi pendewasaan. Hadir pula lima kelompok yang menurut kepercayaan masyarakat adat setempat sebagai simbol kehadiran para leluhur.
Kepala Suku Keret Tuamis Kabupaten Keerom, Servo Tuamis menjelaskan, Pesta Adat Yonggway memiliki makna mendalam bagi masyarakat. Tradisi ini diwariskan melalui kepercayaan leluhur sebagai sarana mendamaikan manusia, menyatukan laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan adat, serta mengatur hubungan manusia dengan tanah dan wilayah adat.
“Pesta Yonggway ini adalah pesta inisiasi pendewasaan bagi generasi muda, yang juga dirangkaikan dengan pesta perdamaian. Dalam kepercayaan orang Daigat, leluhur Jimnawai diutus untuk mendamaikan manusia. Tradisi ini juga berkaitan dengan pemberian tanah, hutan, kekayaan alam, dan hak-hak adat kepada masyarakat,” jelas Servo Tuamis, Rabu,21 Oktober 2026.
Rumah adat tuturnya, mengenal dua bentuk tradisi pendewasaan, yakni Muum dan Yonggway. Keduanya memiliki tata cara berbeda, namun dengan tujuan yang sama. Melalui prosesi tersebut, generasi muda diajarkan mengenai aturan adat, tata krama, kemandirian, serta kewajiban menghormati orang lain, termasuk para tetua adat.
Sedangkan, Dewan Adat Arso, Longginus Fatagur, menyampaikan bahwa pelaksanaan Pesta Adat Yonggway merupakan momentum untuk menyerukan perdamaian bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Keerom, termasuk mereka yang sebelumnya memiliki persoalan atau pertentangan.
“Hari ini kita damai. Walaupun ada persoalan atau permusuhan di rumah maupun di tempat lain, ketika datang ke sini harus berdamai. Hari ini kita melaksanakan perdamaian sebesar-besarnya,” ujar Longginus.
Selain menyerukan perdamaian, ia mengingatkan masyarakat agar menjaga kawasan hutan adat yang selama ini dilestarikan. Menurutnya, hutan bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan keberadaan budaya, leluhur, serta tradisi berburu masyarakat adat.

Sementara itu, Pemuda Adat Keerom, Laurens Borotian mengatakan, Pesta Adat Yonggway tidak dilaksanakan rutin setiap tahunnya, waktu pelaksanaannya tergantung pada kesiapan masyarakat, terutama ketersediaan hasil berburu, bahan pangan dari kebun, serta sagu yang disiapkan untuk kebutuhan pesta.
"Selain menjadi pesta perdamaian, pesta adat ini merupakan prosesi inisiasi bagi remaja yang mulai memasuki tahap dewasa. Mereka dibekali pemahaman tentang adat dan kehidupan bermasyarakat," kata Laurens.
Rangkaian kegiatan biasanya diachiri dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan perdamaian. Melalui Pesta Adat Yonggway, masyarakat adat berharap nilai-nilai penghormatan terhadap sesama, pelestarian hutan, serta penghargaan terhadap hak-hak adat dapat terus diwariskan kepada generasi muda di Kabupaten Keerom.