Prof. Dr. Hi. Nurlaelah: Ketika Jalanan Menjadi Sekolah Kedua Anak
Makassar - Spektroom : Seorang pemuda tewas. Puluhan remaja diamankan. Senjata tajam menjadi bagian dari cerita. Dan sekali lagi, publik dipaksa berhadapan dengan pertanyaan yang lebih tua daripada kasus itu sendiri: di mana orang dewasa ketika anak-anak mulai belajar kekerasan?
Kasus kekerasan yang melibatkan remaja di kawasan Mandai, Makassar, tidak cukup dibaca sebagai cerita tentang anak-anak nakal yang keluar malam, salah pergaulan, kemudian berakhir di tangan polisi. Peristiwa itu menunjukkan persoalan yang jauh lebih dalam.
Guru Besar Fakultas Agama Islam Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Prof. Dr. Hj. Nurlaelah, M.Hum., mengingatkan bahwa seorang anak tidak tiba-tiba menjadi brutal.
Ada proses yang mendahuluinya.
Ada lingkungan yang membentuknya. Ada pergaulan yang memberi pengaruh. Ada keluarga yang mungkin tidak mengetahui perubahan perilaku. Ada sekolah yang hanya melihat sebagian kecil kehidupan anak. Dan ada ruang digital yang dapat memperkuat identitas kelompok serta keberanian yang keliru.
“Anak tidak tiba-tiba menjadi keras dalam satu malam,” kata Nurlaelah.
Kalimat itu penting. Sebab setelah sebuah kekerasan terjadi, masyarakat biasanya sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Orang tua dituding gagal mendidik. Sekolah dianggap tidak mampu membentuk karakter. Polisi dituntut lebih tegas. Anak dicap sebagai generasi bermasalah.
Padahal, kata Nurlaelah, anak memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya, tetapi masyarakat juga harus berani bertanggung jawab atas lingkungan yang membentuknya.
Rumah yang Kehilangan Percakapan
Nurlaelah tidak sedang membela anak yang melakukan kekerasan.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan harus dipertanggungjawabkan sesuai hukum. Namun menghukum pelaku setelah korban jatuh tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
Pertanyaan yang lebih sulit justru muncul sebelum kejahatan terjadi.
Apakah orang tua mengetahui dengan siapa anaknya berteman?
Apakah mereka tahu ke mana anak pergi?
Apakah mereka memahami aktivitas anak di media sosial?
Dan ketika perilaku anak berubah, apakah ada yang bertanya mengapa?
Menurut Nurlaelah, pengawasan terhadap anak bukan sekadar melarang dan memerintah. Anak membutuhkan batas, tetapi juga membutuhkan ruang untuk berbicara.
“Kadang anak membutuhkan pertanyaan yang jauh lebih sederhana: kamu akhir-akhir ini sedang menghadapi apa?” ujarnya.
Di sinilah keluarga diuji.
Rumah tidak boleh hanya menjadi tempat makan, tidur dan pulang. Rumah harus menjadi tempat pertama seorang anak merasa aman ketika menghadapi persoalan.
Sebab ketika rumah kehilangan percakapan, anak bisa mencari tempat lain untuk mendapatkan pengakuan.
Dan kelompok sebaya sering kali menawarkan apa yang tidak ditemukan di rumah: rasa diterima, keberanian, identitas dan solidaritas.
Masalahnya menjadi serius ketika semua itu dibangun dengan kekerasan.
Ketika Solidaritas Berubah Menjadi Kekerasan
Remaja berada pada fase mencari identitas. Mereka ingin diakui, dianggap berani dan menjadi bagian dari kelompok.
Dalam kondisi tertentu, kelompok dapat menjadi ruang positif. Tetapi kelompok juga dapat berubah menjadi mesin yang menghapus pertimbangan individual.
Seseorang yang sendirian mungkin berpikir dua kali sebelum melakukan kekerasan.
Tetapi ketika berada dalam kelompok, keberanian dapat berubah menjadi keberanian semu.
“Solidaritas kelompok dapat berubah menjadi keberanian yang salah arah,” kata Nurlaelah.
Karena itu, persoalan geng motor dan kekerasan jalanan tidak cukup ditangani dengan membubarkan kerumunan setelah kejadian.
Yang harus dicari adalah mengapa kelompok itu terbentuk, siapa yang memengaruhinya, bagaimana komunikasi mereka berlangsung dan apa yang membuat anak merasa mendapatkan identitas dari kelompok tersebut.
Sekolah Bukan Penjara 24 Jam
Nurlaelah juga mengingatkan agar sekolah tidak dijadikan kambing hitam.
Guru bukan penjaga yang dapat mengikuti siswa sepanjang hari. Anak berada di sekolah hanya beberapa jam. Setelah itu mereka kembali ke keluarga, lingkungan pergaulan, jalanan dan dunia digital.
Karena itu, pendidikan karakter tidak mungkin dibebankan kepada sekolah seorang diri.
Ketika guru melihat perubahan perilaku siswa, orang tua harus dilibatkan. Sebaliknya, orang tua tidak boleh menyerahkan pendidikan karakter sepenuhnya kepada guru.
Anak adalah tanggung jawab bersama.
Pandangan ini sejalan dengan sorotan kriminolog yang melihat kekerasan geng motor anak sebagai persoalan multifaktor—melibatkan individu, keluarga, teman sebaya, lingkungan sosial dan ruang digital.
Artinya, mencari satu penyebab tunggal hanya akan membuat persoalan tampak sederhana.
Padahal kenyataannya tidak.
Jangan Biarkan Jalanan Mengajari Anak Menjadi Kuat
Nurlaelah mengingatkan satu hal yang sangat mendasar: anak membutuhkan ruang untuk tumbuh.
Jika keluarga dan sekolah gagal menyediakan ruang tersebut, jalanan akan mengisinya.
Anak membutuhkan olahraga. Membutuhkan seni. Membutuhkan organisasi. Membutuhkan komunitas. Membutuhkan kegiatan sosial. Membutuhkan ruang untuk berprestasi dan memperoleh penghargaan tanpa harus mengalahkan orang lain dengan kekerasan.
Sebab jika jalanan menjadi tempat utama anak belajar tentang keberanian, maka ukuran keberanian pun bisa berubah.
Yang paling kuat adalah yang paling berani menyerang.
Yang paling dihormati adalah yang paling ditakuti.
Dan pada titik itulah masyarakat sedang kehilangan anak-anaknya sedikit demi sedikit.
Polisi Jangan Hanya Datang Setelah Korban Jatuh
Penegakan hukum tetap harus berjalan.
Pelaku harus diproses. Korban harus memperoleh keadilan. Negara harus memastikan ruang publik tidak berubah menjadi arena kekerasan.
Namun Nurlaelah mengingatkan bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum darah kembali tertumpah.
Kasus Mandai memperlihatkan betapa seriusnya persoalan tersebut. Dalam kasus penganiayaan maut di kawasan Perintis Kemerdekaan, polisi mengamankan 19 remaja berusia 14–17 tahun dan menyita sejumlah senjata tajam untuk kepentingan penyidikan.
Angka itu seharusnya tidak hanya dibaca sebagai jumlah tersangka atau terduga pelaku.
Itu adalah alarm sosial.
Sebab ketika belasan anak berada dalam satu rangkaian kekerasan yang menyebabkan seseorang kehilangan nyawa, persoalannya sudah melampaui istilah kenakalan remaja.
Jangan Menunggu Anak Berhadapan dengan Polisi
Nurlaelah mengajak masyarakat mengubah cara pandang.
Jangan menunggu anak tertangkap baru mencari tahu siapa teman-temannya.
Jangan menunggu anak membawa senjata baru bertanya apa yang terjadi.
Jangan menunggu korban jatuh baru membicarakan pencegahan.
Dan jangan menunggu polisi mengetuk pintu rumah untuk mengetahui bahwa seorang anak sedang berubah.
Deteksi dini justru harus dimulai dari hal-hal yang tampak kecil: perubahan pergaulan, perubahan emosi, perubahan kebiasaan, perubahan penggunaan media sosial hingga perubahan cara anak merespons konflik.
Sebab sering kali tanda-tandanya sudah ada.
Hanya saja tidak ada yang cukup dekat untuk melihatnya.
Pertanyaan yang Lebih Menyakitkan
Nurlaelah mengajak masyarakat berhenti sejenak dari kebiasaan saling menyalahkan.
Bukan berarti orang tua bebas dari tanggung jawab.
Bukan berarti sekolah tidak perlu berbenah.
Bukan berarti aparat tidak harus tegas.
Semua mempunyai bagian.
Tetapi jika seluruh energi hanya digunakan untuk mencari pihak yang paling bersalah, masyarakat akan kehilangan kesempatan menemukan akar persoalan.
Karena itu pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar:
“Siapa yang salah?”
Melainkan:
“Di mana kita kehilangan kesempatan untuk mencegahnya?”
Ada anak yang mungkin sejak lama menunjukkan perubahan.
Ada keluarga yang mungkin tidak sempat mendengar.
Ada guru yang mungkin hanya melihat sebagian kehidupan siswanya.
Ada lingkungan yang mungkin terlalu lama membiarkan.
Dan ada masyarakat yang baru terbangun setelah korban jatuh.
Sebelum Terlambat
Anak-anak yang melakukan kekerasan tetap harus bertanggung jawab.
Usia muda bukan tiket untuk membenarkan kejahatan.
Tetapi masyarakat juga tidak boleh berhenti pada penghukuman.
Sebab di balik seorang anak yang membawa senjata mungkin ada proses panjang yang tidak pernah dibaca.
Di balik seorang remaja yang berani melakukan kekerasan mungkin ada kebutuhan untuk diterima.
Di balik sebuah kelompok mungkin ada pencarian identitas.
Dan di balik semuanya, mungkin ada keluarga yang terlambat menyadari bahwa anaknya telah pergi terlalu jauh.
Bagi Nurlaelah, anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang memberi makan, membiayai sekolah dan memenuhi kebutuhan hidup.
Mereka membutuhkan kehadiran.
Mereka membutuhkan orang yang mau mendengar.
Mereka membutuhkan orang yang berani mengatakan tidak ketika mereka mulai salah arah.
Dan mereka membutuhkan rumah yang tetap membuka pintu ketika mereka ingin kembali.
Sebab persoalan sebenarnya bukan hanya tentang anak-anak yang tersesat di jalan.
Persoalannya adalah: mengapa jalan itu lebih berhasil membentuk mereka daripada rumah, sekolah dan masyarakat?
Pertanyaan itulah yang semestinya membuat kita tidak sekadar marah.
Tetapi juga bercermin.