Rahadi dan Oetari: Kisah Cinta yang Dikalahkan Kemerdekaan
Oleh: Syafaruddin Daeng Usman
Senja itu seperti enggan berakhir.
Pontianak-Spektroom : Langit Jakarta memerah tembaga ketika peluit panjang memecah kesunyian Stasiun Jatinegara. Orang-orang lalu lalang membawa koper dan harapan, tetapi bagi dua anak muda yang berdiri di ujung peron, dunia seolah berhenti berputar.
Rahadi Oesman berdiri tegak dalam seragam tempurnya. Di pinggangnya terselip pistol, di punggungnya tergantung senapan dan ransel lusuh yang akan menemaninya menuju medan perjuangan. Wajahnya masih sangat muda. Terlalu muda untuk berbicara tentang kematian. Namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang tak mampu disembunyikan: firasat perpisahan.
Di hadapannya berdiri Oetari.
Gadis tujuh belas tahun itu mencoba tegar, tetapi matanya sudah lebih dulu mengkhianati hatinya. Ia memandang Rahadi tanpa berkedip, seakan takut kehilangan satu detik terakhir kebersamaan mereka.
Tak ada kata-kata indah yang terucap.
Tak ada janji muluk tentang masa depan.
Yang ada hanyalah keheningan panjang yang lebih fasih daripada ribuan kalimat cinta.
Rahadi perlahan mendekat. Angin senja memainkan ujung rambut Oetari. Dengan kedua tangannya, ia meraih bahu gadis itu, memandangnya dalam-dalam, seolah ingin mengukir wajah yang dicintainya ke dalam ingatan untuk selamanya.
"Aku harus pergi. Aku harus kembali."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di dalamnya tersimpan seluruh beban seorang pemuda yang harus memilih antara cinta dan panggilan tanah air.
Oetari memahami.
Sejak awal ia tahu, lelaki yang dicintainya bukan hanya miliknya.
Rahadi adalah milik republik yang sedang berdarah. Milik bangsa yang sedang mempertahankan kemerdekaannya. Milik sejarah yang sedang ditulis dengan peluru dan pengorbanan.
Namun memahami tidak berarti tidak terluka.
Peluit kereta kembali terdengar.
Lebih nyaring.
Lebih menyayat.
Kereta mulai bergerak perlahan.
Rahadi memeluk Oetari erat untuk terakhir kalinya. Tak ada tangis dari bibirnya. Hanya tatapan yang begitu dalam, begitu tajam, seolah ingin membawa perempuan itu ke mana pun langkahnya pergi.
Lalu ia melepaskan pelukan itu.
Melompat ke bordes gerbong terakhir.
Tetap berdiri tegak.
Tetap memandang Oetari.
Tetap tersenyum.
Sampai kereta menjauh, semakin jauh, lalu lenyap ditelan senja.
Saat itulah Oetari tahu.
Entah dari mana datangnya keyakinan itu.
Rahadi tidak akan kembali.
Hari-hari setelah perpisahan berubah menjadi musim penantian yang panjang.
Mula-mula Oetari masih berharap.
Setiap suara langkah di depan rumah membuat jantungnya berdegup. Setiap surat yang datang membuat tangannya gemetar. Ia percaya suatu hari Rahadi akan muncul kembali dengan senyum yang sama seperti senyum terakhir di stasiun.
Tetapi yang datang justru mimpi.
Dalam tidurnya, ia melihat Rahadi berjalan bergandengan tangan dengannya di tepi danau yang sunyi. Dalam mimpi lain mereka duduk di bawah pohon besar, memandang hamparan bukit hijau yang seakan tak berujung.
Tak ada perang.
Tak ada tembakan.
Tak ada perpisahan.
Hanya kedamaian.
Hanya cinta.
Seolah Rahadi sedang mengirimkan pesan dari tempat yang tak dapat dijangkau manusia.
Bahwa ia masih mengingatnya.
Bahwa ia tidak pernah benar-benar pergi.
Tahun-tahun berlalu.
Republik yang diperjuangkan Rahadi tumbuh menjadi negara besar. Generasi berganti. Rambut Oetari perlahan memutih. Namun satu hal tidak pernah berubah: penantiannya.
Hingga suatu hari sebuah surat kembali kepadanya dengan tulisan merah yang menghantam jantungnya lebih keras daripada peluru.
"Soedah Meninggal."
Dunia terasa runtuh.
Namun bahkan setelah itu, Oetari tetap sulit percaya.
Bagaimana mungkin Rahadi yang penuh semangat hidup, yang begitu gagah dan berani, telah tiada?
Baru enam puluh tahun kemudian kabar itu menemukan bentuk yang pasti.
Rahadi Oesman gugur di Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat, dalam pengabdiannya kepada Republik Indonesia.
Rahadi tidak pernah kembali dari perjalanan terakhirnya.
Yang pulang hanyalah namanya.
Yang pulang hanyalah kisah kepahlawanannya.
Yang pulang hanyalah kenangan seorang gadis yang ditinggalkannya di peron stasiun pada sebuah senja yang muram.
Dan hingga akhir hayatnya, Oetari tetap menyimpan tatapan mata Rahadi pada hari perpisahan itu.
Tatapan seorang pemuda yang memilih bangsa di atas kebahagiaan pribadinya.
Tatapan seorang pejuang yang rela kehilangan cinta demi kemerdekaan.
Tatapan yang tak pernah benar-benar pergi.
Karena sesungguhnya, Rahadi gugur di medan perjuangan.
Tetapi cintanya kepada Oetari tetap hidup.
Abadi.
Seabadi merah putih yang ia bela hingga tetes darah terakhir.
(Syafaruddin Daeng Usman adalah Sejarawan Kali.antan Barat)