Riset Unsoed Perkuat Agroindustri Jamur Tiram Desa Winduaji dari Hulu hingga Hilir

Riset Unsoed Perkuat Agroindustri Jamur Tiram Desa Winduaji dari Hulu hingga Hilir
Unsoed memberikan pelatihan dan pendampingan berbasis standar operasional prosedur (SOP), mulai dari penataan kumbung, hingga pengendalian hama dan kontaminasi.(Foto : Humas Unsoed).

Brebes - Spektroom: Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mendorong penguatan agroindustri jamur tiram di Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, melalui penerapan hasil riset kepada masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berbasis Riset yang dilaksanakan sejak Juni 2026 dengan fokus pada pengembangan agroindustri jamur tiram dari sektor hulu hingga hilir.

Program bertajuk “Penguatan Hulu-Hilir Agroindustri Jamur Tiram melalui Standardisasi Budidaya, Pembuatan Bibit, dan Diversifikasi Produk di Desa Winduaji” itu didukung pendanaan Badan Layanan Umum (BLU) Unsoed melalui Skim PkM Berbasis Riset Tahun 2026.

Mitra kegiatan adalah Kelompok Tani Jamur Agro Tani Mandiri di Dukuh Karangnangka, Desa Winduaji. Tim PkM Unsoed dipimpin Prof. Dr. Sri Lestari, S.E., M.Si., bersama Prof. Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M.S. dan Arif Rahman Hikam, S.Pd., M.Si.

Desa Winduaji dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan jamur karena kondisi lingkungan mendukung serta tersedianya limbah serbuk kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan media tanam. Limbah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 30 ton per bulan.

Selama ini, kelompok mitra membudidayakan jamur tiram putih dan cokelat. Namun produksinya masih rendah dan fluktuatif, sekitar 2 hingga 10 kilogram per hari. Petani masih bergantung pada bibit dari luar desa dan belum memiliki standar budidaya yang seragam.

Melalui program tersebut, Unsoed memberikan pelatihan dan pendampingan berbasis standar operasional prosedur (SOP), mulai dari penataan kumbung, pembuatan baglog, pengaturan suhu dan kelembapan, sanitasi hingga pengendalian hama dan kontaminasi.

Pendampingan mencakup pembuatan bibit jamur secara mandiri, mulai dari bibit F0, F1 hingga F2. Langkah ini diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bibit dari luar sekaligus meningkatkan kemandirian produksi.

Penguatan sektor hilir dilakukan melalui penanganan pascapanen, diversifikasi produk olahan jamur, pencatatan keuangan, strategi pemasaran serta pengelolaan usaha dan kelembagaan kelompok.

Ketua Tim PkM Unsoed Prof. Dr. Sri Lestari berharap pendampingan tersebut dapat membentuk usaha jamur yang mandiri dan berkelanjutan.

“Kami berharap mitra mampu menerapkan SOP budidaya secara konsisten, memproduksi bibit sendiri, dan meningkatkan kestabilan produksi. Diversifikasi produk olahan juga diharapkan memberikan nilai tambah serta mendukung pengembangan Desa Winduaji sebagai desa wisata,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Jamur Agro Tani Mandiri, Dedi Riyadi, mengapresiasi dukungan Unsoed. Menurutnya, program tersebut diharapkan meningkatkan keterampilan anggota, mengurangi kegagalan produksi, mewujudkan kemandirian bibit dan memperluas pemasaran produk.

Sementara itu, Kepala Desa Winduaji H. Abdurahman berharap pengembangan agroindustri jamur dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendukung ketahanan pangan dan pengembangan desa wisata.

Program PkM Berbasis Riset tersebut menjadi bagian dari upaya Unsoed mengimplementasikan hasil penelitian untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Berita terkait