Rosarita : "Traffic di Ruang Digital Sangat Massive, Tidak Hanya Banjir Informasi, Namun Seperti Tsunami Informasi"

Rosarita : "Traffic di Ruang Digital Sangat Massive, Tidak Hanya Banjir Informasi, Namun Seperti Tsunami Informasi"
Anggota Dewan Pers Rosarita Niken Widiastuti (Kanan) - Atiatul Muqtadir Founder Beri Perubahan Indonesia (Kiri) Narasumber (Foto Capture YouTube Ditjen Komunikasi Publik dan Media).

Jakarta - Spektroom: Bicara mengenai literasi digital memang tidak terlepas dari realitas ruang digital, 280 juta lebih penduduk Indonesia berdasarkan data We Are Social itu ada 125% HP yang beredar.

"Jadi kalau penduduknya adalah 280 juta maka HP yang beredar di Indonesia ada sekitar 325 juta HP" ujar Anggota Dewan Pers Rosarita Niken Widiastuti.

audio-thumbnail
Voice Niken Widiastuti
0:00
/269.66

Pada Webinar Pentingnya Literasi Digital Dalam Rangka Menguatkan Spirit Pancasila, yang digelar Direktorat Jendral Komunikasi Publik dan Media Kemenkomdigi, Senin (29/6/2026), Niken Widiastuti juga mengatakan, hal itu menandakan bahwa ruang digital kita ini begitu sibuknya, tidak hanya banjir informasi, tetapi seperti tsunami informasi.

"Dan ini menjadi arena utama untuk pembentukan opini publik, perilaku sosial, dan digitalisasi ini mengubah pola interaksi yang tadinya anak-anak mayoritas masih bermain sepak bola atau permainan tradisional, sekarang diakui tatap muka fisik berubah menjadi aktivitas di ruang digital" terangnya lagi.

Niken Widiastuti juga mengatakan berbicara tentang tantangan ideologi Pancasila saat ini, begitu banyaknya informasi yang tidak semua informasi benar, tetapi banyak juga informasi yang dapat dikategorikan sebagai hoax, ujaran kebencian, konten dan disinformasi yang menyebar secara massif di media sosial, merusak kohesi sosial dan kepercayaan antar warga.

Di samping banyaknya hoax, ujaran kebencian, juga hadirnya paham-paham yang mengancam ideologi Pancasila, adanya paham radikalisme, adanya polarisasi yang marak memanfaatkan algoritma digital untuk merekrut dan memperkeruh persatuan bangsa.

"Disamping itu juga adanya krisis identitas generasi muda, yang kemudian sangat terpengaruh mentalnya terhadap respon dari media sosial, kalau dia mengunggah foto atau video kemudian tidak banyak yang comment atau like, maka dia akan merasa tersisih dan akan berusaha bagaimana dia eksis dan mendapat pengakuan atau validasi dari komunitas mereka" urai Niken Widiastuti menjelaskan.

Pada bagian lain Niken juga menyampaikan krisis identitas bagi generasi muda ini juga berpengaruh terhadap perilakunya dan dengan derasnya arus budaya asing yang tidak tersaring, bisa mengikis rasa kebangsaan dan jati diri Pancasila pada Gen Z.

Sementara diforum yang sama Founder Beri Perubahan Indonesia Atiatul Muqtadir menyatakan literasi digital bukan hanya sekedar bisa pakai HP, melainkan bijak, kritis, dan produktif diruang degital.

"Intinya Literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi Informasi dan kemampuan menemukan, mengefaluasi, komunikasi secara produktif, kritis, den aman dalam menciptakan, dan mengkomunikasikan informasi kehidupan sehari-hari, secara digital dengan penuh tanggung jawab" ujar mantan Ketua BEM UGM, yang akrab disapa Fatur.

Menurutnya kritis bukan berarti melahirkan kritik, kritis adalah pengambilan keputusan sebelum mempublish konten, benar atau tidak konten yang dia buat.

Fatur juga mencontohkan konten yang dibuat oleh Artificial Intelegence (AI) yang sering tidak selalu benar, terkadang melenceng dari Realita, terlebih jika konten itu dalam format video seseorang yang ekspresif namun tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya.

"Hal seperti inilah yang sangat berbahaya jika seorang konten kreator tidak memiliki daya kritis yang tinggi" pungkasnya.(@Ng).

Berita terkait

Para Ayah Jadi Role Model dan Lindungi Anak dari Fenomena Fatherless Country

Para Ayah Jadi Role Model dan Lindungi Anak dari Fenomena Fatherless Country

Mataram-Spektroom : Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menekankan peringatan HARGANAS bukan sekadar seremonial biasa melainkan sebuah jeda kultural dan refleksi nasional. Menghadapi era disrupsi teknologi digital dan tantangan global yang bergerak cepat, Gubernur menyoroti pentingnya ketangguhan keluarga. Jika institusi keluarga rapuh, masa depan anak-anak akan dengan mudah tergilas oleh arus zaman. Oleh

Marsam Putrangga, Julianto
Jaga Stabilitas Pasokan PD Pasar Jaya  Pantau Harga 37 Komoditas Pangan

Jaga Stabilitas Pasokan PD Pasar Jaya Pantau Harga 37 Komoditas Pangan

Jakarta – Spektroom : Perumda Pasar Jaya terus memperkuat pengawasan terhadap harga dan ketersediaan bahan pangan di Ibu Kota melalui pemantauan harian terhadap 37 komoditas strategis di puluhan pasar yang tersebar di wilayah DKI Jakarta. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Direktur Utama Perumda

Irvan Idris Saleh, Nurana Diah Dhayanti