Rumah PoHan Gelar Pameran 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang
Semarang-Spektroom : Hari terakhir pameran 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang” di Jalan Kepodang 64, kawasan Kota Lama Semarang, Senin (19/10/2026) menyisakan sejumlah kenangan.
Bertempat di Rumah Pohan, di jalan Kepodang 64, Kawasan Kota Lama, Semarang, pameran mengajak masyarakat menelusuri kembali peran Semarang dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Rumah PoHan dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kota Semarang, didukung Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang.
Pembukaan pameran dihadiri Anggota DPR RI Komisi VII Samuel J.D. Wattimena, akademisi, mahasiswa, pelajar, jurnalis, Legiun Veteran Republik Indonesia, serta komunitas pegiat sejarah. Pameran secara resmi dibuka Kepala Dinas Arpus Kota Semarang, Nur Huda Iskandar.
Kurator pameran, Kesit Widjanarko, Senin (19/10/2926), menjelaskan tajuk pameran merujuk pada pernyataan Jenderal Besar A.H. Nasution yang menempatkan Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia.
Menurut Kesit, peristiwa yang berlangsung pada 15–19 Oktober 1945 tersebut masih membutuhkan penggalian sejarah lebih mendalam, terutama terkait tokoh-tokoh yang terlibat, dinamika perjuangan, dan pengalaman masyarakat.
“Dalam pameran ini, kami juga banyak menampilkan sumber-sumber lokal yang selama ini belum banyak digali, termasuk informasi mengenai tokoh-tokoh penting yang terlibat di dalamnya,” ujar Kesit.
Materi pameran tidak hanya menampilkan kronologi pertempuran dan perjuangan bersenjata, tetapi juga memperkenalkan tokoh dari beragam latar belakang, seperti R.M. Bambang Soeprapto, Ibnu Parna, K.R.M.T. Wongsonegoro, Mgr. Albertus Soegijapranata, dan Mr. Kasman Singodimedjo.
Pameran turut menyoroti peran masyarakat dalam menghadapi perang, mulai dari menyediakan makanan, merawat korban, menyampaikan informasi, hingga membantu menyelamatkan keluarga dari kawasan berbahaya.
Sementara itu, Samuel J.D. Wattimena menilai semangat perjuangan rakyat Semarang perlu dimaknai kembali melalui tindakan yang relevan dengan tantangan masa kini dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Apresiasi juga disampaikan pengunjung Gregorious Hendrawan Manurung. Ia menilai pameran memadukan penataan artistik dengan narasi sejarah yang didukung riset mendalam.
Melalui pameran ini, Rumah PoHan berharap penggalian arsip, penelitian, dokumentasi kesaksian, serta pengembangan karya seni dan kebudayaan terus dilakukan. Upaya tersebut diharapkan memperkaya pemahaman sejarah lokal sekaligus menempatkan Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai bagian penting dari sejarah nasional.