Secangkir Kopi, Empat Negeri, dan Pelajaran Tentang Manusia
Catatan Perjalanan Syafaruddin Daeng Usman.
Pontianak-Spektroom : Pagi baru saja merekah ketika aroma kopi memenuhi sudut sebuah kedai kecil di Istanbul. Uap tipis mengepul dari cangkir mungil berwarna putih. Di luar, langkah para pejalan kaki berbaur dengan suara trem tua yang melintas pelan di antara bangunan-bangunan berusia ratusan tahun.
Saya mengangkat cangkir itu perlahan.
Rasanya pekat, nyaris tanpa kompromi. Ampasnya mengendap di dasar gelas. Tidak ada gula berlebih. Tidak pula hiasan busa seperti kopi modern yang akrab di media sosial.
Di kota yang menjadi persimpangan Asia dan Eropa itu, kopi ternyata bukan sekadar minuman. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat, diwariskan lintas generasi sebagai simbol penghormatan, kesabaran, bahkan cinta.
Seorang warga lokal bercerita tentang sebuah tradisi yang masih dijaga hingga sekarang.
Sebelum pesta pernikahan digelar, keluarga calon mempelai laki-laki datang bersilaturahmi ke rumah calon mempelai perempuan. Sang perempuan lalu menyajikan kopi kepada seluruh tamu. Namun ada satu cangkir yang berbeda. Milik calon suami sengaja dicampur sesendok garam.
Bukan untuk mempermalukan.
Melainkan menguji.
Mampukah lelaki itu menelan rasa yang tidak nyaman tanpa mengeluh?
Jika ia sanggup menghabiskan kopi asin itu dengan senyum yang tetap terjaga, keluarga perempuan percaya lelaki tersebut memiliki kesabaran yang kelak dibutuhkan dalam membangun rumah tangga.
Saya tersenyum mendengarnya.
Di negeri saya, cinta sering diukur lewat kata-kata. Di Turki, rupanya ia kadang diuji melalui secangkir kopi yang terasa asin.
Di sudut lain Istanbul, seorang perempuan tua menunjukkan cara membaca masa depan dari ampas kopi. Setelah cangkir dikosongkan, ia membaliknya di atas piring kecil. Garis-garis yang terbentuk dipercaya menyimpan pertanda tentang rezeki, perjalanan, atau perjumpaan yang akan datang.
Entah mitos atau keyakinan.
Namun saya melihat satu hal yang pasti: masyarakat Turki masih memberi ruang bagi tradisi untuk hidup berdampingan dengan modernitas.
Kereta cepat membawa perjalanan menuju Roma.
Di Italia, kopi kehilangan nuansa seremonialnya. Ia berubah menjadi denyut kehidupan.
Pukul delapan pagi, bar-bar kecil dipenuhi pekerja yang datang silih berganti. Mereka memesan espresso, menyeruputnya dalam dua atau tiga tegukan, meletakkan uang di meja kasir, lalu menghilang menuju kantor.
Semuanya berlangsung tidak lebih dari lima menit.
Tak seorang pun tampak ingin berlama-lama.
Di Indonesia, secangkir kopi sering menjadi alasan untuk duduk berjam-jam sambil berbincang. Di Italia, kopi justru menjadi penanda bahwa hari harus segera dimulai.
Saya sempat bertanya kepada seorang barista mengapa hampir tak ada warga lokal yang memesan cappuccino pada siang hari.
Ia tertawa kecil.
"Itu minuman pagi," katanya singkat.
Jawaban sederhana itu menjelaskan banyak hal. Bahkan pilihan kopi pun memiliki etika budaya yang dipatuhi tanpa perlu ditulis di mana pun.
Di Italia, kopi bukan hanya soal rasa.
Ia adalah disiplin.
Jauh di utara Eropa, Reykjavik menyambut dengan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Di tengah suhu yang nyaris membuat tangan enggan keluar dari saku, secangkir kopi menjadi lebih dari sekadar minuman hangat.
Ia menjadi teman.
Negeri kecil ini termasuk salah satu peminum kopi terbesar di dunia. Namun yang membuat saya terkesan bukan angka-angkanya.
Melainkan suasananya.
Kedai-kedai kopi di Reykjavik sebagian besar dikelola keluarga. Tidak banyak jaringan waralaba raksasa yang mendominasi.
Setiap kedai memiliki karakter sendiri.
Pemilik mengenal pelanggan.
Pelanggan mengenal cerita pemiliknya.
Saya menyadari, secangkir kopi ternyata bisa menjadi perekat hubungan sosial yang sederhana tetapi hangat.
Masyarakat Islandia bahkan memiliki istilah khusus untuk membedakan kopi pagi, kopi sore, hingga kopi malam.
Bahasa mereka menyimpan penghormatan terhadap kebiasaan yang bagi banyak orang mungkin dianggap biasa.
Perjalanan berakhir di Wina.
Jika Italia menjadikan kopi sebagai ritme hidup, Austria menjadikannya rumah bagi gagasan.
Memasuki kafe-kafe tua di kota itu serasa memasuki perpustakaan yang dipenuhi aroma kopi.
Orang membaca.
Menulis.
Berdebat.
Berdiam diri.
Tak ada yang merasa tergesa.
Budaya kedai kopi Wina bahkan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia. Berabad-abad lamanya, tempat-tempat itu menjadi ruang bertemunya para pemikir, seniman, jurnalis, hingga politisi.
Di salah satu sudut kota berdiri Cafe Frauenhuber, kedai kopi yang masih bertahan sejak abad ke-18. Konon, Wolfgang Amadeus Mozart dan Ludwig van Beethoven pernah memainkan musik mereka di sana.
Saya duduk cukup lama di salah satu meja.
Bukan untuk mengejar waktu.
Justru untuk melupakannya.
Di tempat itu saya memahami mengapa secangkir kopi sering menjadi sahabat lahirnya ide-ide besar. Ia memberi jeda. Dan dalam jeda itulah manusia belajar mendengar dirinya sendiri.
Perjalanan melintasi empat negara itu akhirnya menyisakan sebuah kesadaran yang sederhana.
Sering kali wisatawan datang mencari bangunan megah, museum terkenal, atau lanskap yang fotogenik.
Padahal wajah sebuah bangsa justru kerap tersembunyi di tempat-tempat yang paling biasa.
Di balik secangkir kopi.
Di balik percakapan singkat dengan barista.
Di balik tradisi yang diwariskan tanpa banyak dipromosikan.
Saya pulang bukan hanya membawa foto-foto perjalanan.
Saya membawa pemahaman bahwa setiap bangsa memiliki cara sendiri dalam menghormati waktu, menjaga tradisi, dan merawat kebersamaan.
Dan saya percaya, siapa pun yang ingin mengenal sebuah negeri tidak harus memulai dari istana, gedung parlemen, atau monumen bersejarah.
Cukup duduk di sebuah kedai kopi.
Pesan secangkir kopi lokal.
Lalu dengarkan cerita yang perlahan menguar bersama aromanya.
Sebab pada akhirnya, perjalanan terbaik bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah.
Melainkan seberapa dalam hati belajar memahami manusia.