Secara Ekonomis, Lampung Gantungkan Hidup Pada Tiga Komoditas Pokok Pertanian
Pringsewu - Spektroom: Sektor pertanian tetap menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan pendapatan petani kini berdampak langsung pada penguatan daya beli masyarakat perdesaan serta mengakselerasi agenda hilirisasi produk pertanian ke pasar internasional.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal pada Pesta Rakyat Petani dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional Tahun 2026 yang berlangsung di Kawasan Gruput Pringsewu, Kecamatan Gading Rejo, Minggu (25/10/2026).
Gubernur Mirza memaparkan bahwa mayoritas masyarakat Lampung menggantungkan hidup pada sektor pertanian, khususnya pada tiga komoditas pokok.
"Di Provinsi Lampung ada tiga komoditas utama yang banyak sekali petaninya: padi, jagung, dan singkong. Hampir 604 masyarakat Lampung bergantung dengan tiga komoditas itu," ujar Gubernur.
Keberpihakan pemerintah dalam memastikan ketersediaan pupuk terjangkau serta perbaikan harga jual hasil panen memberikan dampak positif bagi para petani di lapangan.
Gubernur menambahkan, tren kenaikan pendapatan petani konkret terkonfirmasi melalui meningkatnya sejumlah indikator konsumsi di kabupaten berbasis pertanian, mulai dari kendaraan niaga hingga material bangunan.
"Di Kabupaten berbasis pertanian penjualan Kendaraan angkutan barang meningkat hampir 40% lebih, terutama light truck, truck dan van. Yang kedua juga penjualan dari Semen Indonesia melaporkan kepada kami, penjualan semen retail di kabupaten-kabupaten juga meningkat hampir 20% di tahun ini," ungkap Gubernur Mirza.
Kondisi tersebut juga mendorong performa ekonominya daerah, dimana Lampung kini menempati peringkat kedua pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatra
Menjawab tantangan ke depan, Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen mengawal transformasi sektor agraris melalui program hilirisasi di tingkat desa agar komoditas lokal memiliki daya saing global.
Diforum yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa sinergi kebijakan sektor pertanian antara pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Lampung terbukti membuahkan dampak signifikan terhadap kesejahteraan petani serta percepatan laju perekonomian daerah.
Mentan juga menyoroti keberhasilan penanganan anjloknya harga singkong di Lampung.
Berkat koordinasi intensif bersama Pemerintah Provinsi Lampung serta Menko Pangan, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan penyetopan total impor singkong dan etanol.
Kebijakan ini terbukti efektif mengerek harga beli singkong di tingkat petani yang kini telah menyentuh angka Rp3.000 per kilogram.
"Bayangkan, itulah bentuk kepedulian Bapak Presiden Prabowo pada petani Indonesia, tanpa regulasi kami diminta stop impor dari negara lain" tegas Amran.
Mentan juga memberikan apresiasi khusus atas kegigihan Gubernur Lampung yang terus berkomunikasi secara intensif demi memperjuangkan stabilitas harga komoditas dan ketersediaan sarana produksi bagi petani Lampung.
"Tapi Pak Gubernur Lampung luar biasa kepeduliannya terhadap petani Lampung" ucap Mentan memuji.
Selain persoalan komoditas, Mentan mengumumkan terobosan regulasi yang kini memfasilitasi buruh tani (buruh tandur) agar berhak menerima bantuan alsintan langsung dari kementerian.
Regulasi baru ini langsung direalisasikan dengan penetapan bantuan traktor tangan bagi kelompok buruh tandur perempuan di wilayah Pringsewu.
Terkait pupuk bersubsidi, Mentan memastikan pasokan di tingkat daerah terus diawasi secara ketat. Pemerintah bahkan telah menurunkan harga pupuk subsidi hingga 20 persen tanpa menambah beban APBN, serta menindak tegas oknum yang menyelewengkan hak petani.(@Ng).