Serah Terima Kepala RRI Pontianak dari Peri Widodo kepada Budi Suwarno
Pontianak-Spektroom : Suasana hangat bercampur haru menyelimuti agenda pisah sambut Kepala RRI Pontianak, Kalimantan Barat. Pertemuan itu bukan sekadar seremoni pergantian jabatan, tetapi juga menjadi ruang berbagi cerita tentang perjalanan, tantangan, dan harapan bagi masa depan Radio Republik Indonesia di wilayah perbatasan.
Peri Widodo, S.Ag., yang selama kurang lebih 6 bulan memimpin RRI Pontianak dan Kakorwil IX RRI Pontianak, menyerahkan tongkat estafet kepada Budi Suwarno, S.Sos., M.P.Pd. Perpindahan keduanya terasa simbolis.
Peri bertolak dari Pontianak menuju Lampung, sementara Budi datang dari Lampung untuk melanjutkan kepemimpinan di Kalimantan Barat.
Acara berlangsung penuh keakraban dengan dihadiri Anggota DPR RI Komisi VII, Alifudin, serta sejumlah insan RRI di Kalbar.
Hadir pula Kepala Stasiun RRI Entikong, Riswandi Gayo dari Kabupaten Sanggau, dan Kepala Stasiun RRI Sintang, M. Fauzi Husaini.

Peri Widodo mengungkapkan kesan mendalam selama bertugas di Kalimantan Barat. Baginya, Kalbar bukan wilayah yang mudah dijangkau dalam waktu singkat.
Luasnya daerah, kondisi geografis, hingga tantangan konektivitas menjadi pengalaman tersendiri dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan lembaga penyiaran publik.
Banyak hal yang harus diselesaikan, terutama dalam pengembangan kiprah lembaga dan penguatan pelayanan siaran kepada masyarakat,” ujarnya.
Meski masa tugasnya terbilang singkat, Peri mengaku telah memulai berbagai langkah strategis, termasuk menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, institusi pendidikan, hingga sejumlah mitra di tingkat provinsi maupun kabupaten. Namun, ia menyadari masih banyak program yang belum sempat dituntaskan.
Ia berharap seluruh rintisan kerja sama dan agenda pengembangan RRI di Kalbar dapat diteruskan oleh pimpinan yang baru.
Sementara itu, Budi Suwarno menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan program-program yang telah dibangun sebelumnya.
Kalimantan Barat memiliki posisi strategis, terutama sebagai wilayah perbatasan yang membutuhkan peran kuat media publik dalam menjaga informasi, budaya, dan persatuan masyarakat.
Pergantian kepemimpinan yang berlangsung itu menjadi lebih dari sekadar rotasi jabatan. Ada cerita tentang pengabdian, adaptasi lintas daerah, hingga semangat menjaga suara publik tetap hadir di tengah masyarakat.
Di antara senyum dan salam perpisahan, terselip harapan agar RRI terus menjadi jembatan informasi yang dekat dengan rakyat, dari kota hingga perbatasan negeri.