Seribu Bakcang untuk Pontianak: Tradisi yang Pecahkan Rekor dan Tercatat dalam Sejarah

Seribu Bakcang untuk Pontianak: Tradisi yang Pecahkan Rekor dan Tercatat dalam Sejarah
Para penggiat Budaya Tionghoa dalam festival Bak Chang (Bakcang) 2026 menerima piagam Penghargaan dari Museum. (Foto: Apolo/Spektroom)

Pontianak-Spektroom : Aroma daun bambu yang membungkus bakcang memenuhi tepian Sungai Kapuas.

Ribuan warga memadati lokasi Festival Bakcang 2026,Alun alun Kapuas jalan Rahadi Oesman Pontianak akhir pekan (20/6/2026) menyaksikan sebuah tradisi yang bukan hanya dirayakan, tetapi juga mencatat sejarah baru bagi Kota Pontianak.

Perayaan budaya masyarakat Tionghoa itu diawali dengan prosesi simbolis melempar bakcang ke Sungai Kapuas, sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Namun tahun ini, festival menghadirkan catatan istimewa.

Sebanyak 1.000 bakcang dibagikan secara gratis kepada masyarakat dan berhasil memecahkan rekor yang kemudian didokumentasikan oleh pihak Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat.

Di tengah antusiasme warga, Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak (KBTP) sekaligus Ketua Panitia Festival Bakcang 2026, Hendry Pangestu Lim, menerima penghargaan dari Pemerintah Kota Pontianak dan Museum Negeri Kalimantan Barat atas keberhasilannya menyelenggarakan kegiatan tersebut.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kami. Festival yang selama ini rutin dilaksanakan akhirnya mencatatkan sejarah dan menjadi bagian dari dokumentasi budaya yang disaksikan langsung oleh masyarakat serta pihak museum,” ujar Hendry.

Bagi KBTP, pembagian seribu bakcang bukan sekadar upaya memecahkan rekor.

Kegiatan itu menjadi simbol berbagi, pelestarian budaya, sekaligus ruang pertemuan lintas generasi.

Di balik sepotong bakcang yang dibagikan kepada warga, tersimpan cerita panjang tentang identitas, tradisi keluarga, dan nilai kebersamaan yang terus dijaga.

Momentum tersebut juga menjadi ajang penghormatan kepada para pegiat budaya yang dinilai konsisten menjaga warisan budaya Tionghoa dan keberagaman Kalimantan Barat.

Salah satu sosok yang mendapat perhatian khusus adalah The Ngak Tjeng, perempuan berusia 87 tahun yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pelestari kuliner tradisional Tionghoa.

Kepala UPT Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat, Meidy Vinandar Pratama, mengungkapkan bahwa The Ngak Tjeng bukan nama baru dalam perjalanan budaya Kalimantan Barat.

Pada pertengahan 1990-an, ia pernah tampil dalam kegiatan Sepekan Budaya Tionghoa dan memperagakan secara langsung pembuatan chai kue di hadapan masyarakat serta pejabat daerah.

Kini, di usia yang tidak lagi muda, penghargaan yang diterimanya menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi panjang menjaga tradisi.

“Saya merasa bahagia. Penghargaan ini bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk para ibu rumah tangga yang selama ini menjaga tradisi keluarga,” tuturnya.

Menurutnya, sebuah perayaan budaya tidak pernah hadir secara tiba-tiba.

Ada persiapan panjang yang dilakukan para ibu di rumah, mulai dari menyiapkan bahan makanan hingga memastikan seluruh rangkaian tradisi dapat berlangsung sebagaimana mestinya.

Tak hanya membagikan bakcang, festival tahun ini juga meninggalkan jejak yang lebih permanen.

Hendry Pangestu Lim menyerahkan replika bakcang dan desain grafis proses pembuatannya kepada Museum Negeri Kalimantan Barat untuk menjadi koleksi edukatif.

Harapannya, Festival Bakcang tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik wisata yang mampu menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari pelaku UMKM hingga sektor perhotelan dan kuliner.

Di Pontianak, seribu bakcang yang dibagikan hari itu bukan sekadar angka rekor.

Ia menjadi simbol bahwa tradisi yang dirawat dengan konsisten dapat terus hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa depan, sekaligus memperkuat identitas kota yang tumbuh dalam keberagaman.

Berita terkait

BKPSDM Banyumas Hadirkan Program Jempol Serasi, Dekatkan Layanan Kepegawaian pada ASN

BKPSDM Banyumas Hadirkan Program Jempol Serasi, Dekatkan Layanan Kepegawaian pada ASN

Banyumas-Spektroom: Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Banyumas meluncurkan program Jemput Bola Serap Aspirasi (Jempol Serasi) sebagai upaya mendekatkan layanan kepegawaian kepada aparatur sipil negara (ASN) di seluruh wilayah kecamatan selama tahun 2026. Kepala BKPSDM Kabupaten Banyumas, Eko Prijanto, mengatakan program tersebut dirancang untuk memudahkan ASN memperoleh

Bian Pamungkas
Jaga Keterjangkauan Harga, Pemprov NTB Gelar GPM Hingga Ke Ujung Lombok Barat

Jaga Keterjangkauan Harga, Pemprov NTB Gelar GPM Hingga Ke Ujung Lombok Barat

Mataram-Spektroom : Dinas Ketahanan Pangan kembali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Halaman Hutan Nuraksa Kumbi, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan ini menjadi upaya pemerintah menjaga keterjangkauan harga pangan sekaligus mendekatkan akses bahan pokok murah kepada masyarakat di wilayah pelosok. Kepala Bidang Ketersediaan dan

Marsam Putrangga, Julianto