Setiap Pribadi Seperti Lautan, Tak Semua Kedalaman Harus Dijelaskan
"Catatan Syafaruddin Daeng Usman: Tentang Tuduhan, Keteguhan Hati, dan Seni Menjaga Ketenangan"
Pontianak-Spektroom : Tidak semua tuduhan harus dijawab dengan kemarahan. Tidak setiap kabar yang menyudutkan perlu dilawan dengan suara keras.
Ada kalanya, memilih diam justru menjadi cara seseorang menjaga martabat, mengendalikan diri, dan menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi kehidupan.
Dalam catatan reflektifnya bertajuk " Setiap Pribadi Sama Seperti Juga Lautan", Syafaruddin Daeng Usman mengajak pembaca memahami bahwa menghadapi ketidakadilan tidak selalu harus melalui perdebatan panjang.
Ada nilai yang jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan argumen, yakni ketenangan hati dan konsistensi dalam menjaga karakter.
Ketika seseorang dituduh melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, rasa sakit tentu sulit dihindari.
Apalagi jika tuduhan tersebut berkembang menjadi penilaian orang lain, sementara mereka yang mempercayainya belum tentu mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.
Keinginan untuk membela diri merupakan hal yang manusiawi. Setiap orang ingin kebenaran diketahui, nama baik dipulihkan, dan kesalahpahaman diluruskan.
Namun, dalam situasi tertentu, keinginan menjelaskan segala sesuatu justru dapat menguras energi, terutama ketika berhadapan dengan orang yang sejak awal tidak berniat memahami.
Di sinilah kedewasaan diuji.
Diam bukan berarti mengakui kesalahan. Diam juga tidak otomatis menunjukkan kelemahan atau kekalahan.
Sebaliknya, diam dapat menjadi pilihan sadar untuk tidak terjebak dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.
Meski demikian, bukan berarti setiap persoalan harus dibiarkan tanpa penjelasan.
Ketika menyangkut kebenaran, tanggung jawab, atau nama baik, seseorang tetap dapat memberikan klarifikasi secara tepat dan bermartabat. Setelah itu, tidak perlu menghabiskan seluruh hidup untuk mengejar pengakuan dari setiap orang.
Sebab, tidak semua orang akan melihat persoalan dari sudut pandang yang sama.
" Karakter seseorang justru terlihat ketika ia diperlakukan secara tidak adil, tetapi tetap mampu menjaga sikap dan prinsip hidupnya." Keteguhan semacam ini bukan perkara mudah.
Dibutuhkan kesabaran untuk menahan emosi, kebijaksanaan untuk memilih kata, serta keberanian untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Syafaruddin juga mengingatkan bahwa waktu dan konsistensi dapat menjadi penjelas yang lebih kuat daripada serangkaian pembelaan.
Sikap yang terjaga, tindakan yang selaras dengan perkataan, dan kehidupan yang dijalani dengan penuh tanggung jawab perlahan akan membentuk penilaian tersendiri.
Bagi mereka yang menjadikan iman sebagai pegangan, keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui seluruh kebenaran juga menjadi sumber kekuatan.
Ketika manusia hanya melihat sebagian cerita, Tuhan mengetahui niat, perjuangan, dan luka yang tidak selalu mampu diungkapkan melalui kata-kata.
Pada akhirnya, manusia memang menyerupai lautan. Permukaannya dapat terlihat tenang, tetapi kedalamannya menyimpan banyak hal yang tidak mudah dipahami hanya dengan sekali pandang.
Tidak semua orang perlu mengetahui seluruh isi hati kita. Tidak semua penilaian harus menjadi beban yang dibawa sepanjang perjalanan hidup.
Pesan Syafaruddin Daeng Usman sederhana, tetapi bermakna: tetaplah tenang ketika menghadapi tuduhan, luruskan yang perlu diluruskan, dan jangan kehilangan karakter hanya karena perlakuan orang lain.
Sebab, " kebenaran tidak selalu membutuhkan suara paling keras untuk tetap menjadi kebenaran."
" Syafaruddin Daeng Usman, penulis freelance sejak 1986 hingga sekarang."