Suara yang Dibayar dengan Darah
oleh : Subiyantoro
Malam belum terlalu larut ketika seorang lelaki muda mengayuh sepeda dalam keadaan sempoyongan.
Pakaiannya berlumuran darah. Tubuhnya penuh lebam. Napasnya berat. Tetapi ia masih sadar bahwa dirinya beruntung—karena beberapa menit sebelumnya, sebilah katana nyaris mengakhiri hidupnya.
Lelaki itu bernama Muhammad Yusuf Ronodipuro.
Usianya baru 26 tahun.
Beberapa jam sebelumnya, suaranya baru saja mengudara membawa sebuah kabar yang kelak mengubah sejarah: Indonesia telah merdeka.
Namun malam itu, kemerdekaan hampir membuatnya kehilangan kepala.
Pagi 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
Tetapi bagi dunia, berita itu belum benar-benar ada.
Di gedung Radio Hoso Kyoku di Jalan Medan Merdeka Barat, Yusuf masih berada di bawah pengawasan ketat tentara Jepang.
Sejak beberapa hari sebelumnya, pintu gedung dijaga. Para pegawai tidak bebas keluar masuk. Siaran ke luar negeri dihentikan.
Kemerdekaan telah diproklamasikan.
Tetapi suara Indonesia seperti masih terkurung di dalam gedung itu.
Menjelang sore, secercah harapan datang melalui tembok belakang.
Seorang pegawai kantor berita Domei, Syahruddin, berhasil menyusup.
Ia membawa pesan dari Adam Malik: Soekarno dan Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Yusuf membaca kabar itu.
Barangkali saat itulah ia menyadari satu hal sederhana: berita sebesar ini tidak boleh mati di dalam sebuah ruangan.
Harus keluar.
Harus didengar.
Bersama Bachtiar Loebis dan teknisi radio Joe Seragih, Yusuf mencari jalan.
Studio-studio siaran dijaga tentara Jepang. Namun mereka menemukan satu ruang yang luput dari perhatian: studio siaran mancanegara yang sudah tidak digunakan.
Studio itu tidak terhubung ke pemancar.
Kabel-kabel pun diubah.
Sebuah risiko diambil.
Dan pada pukul 19.00 WIB, suara Yusuf Ronodipuro mengudara.
Teks Proklamasi dibacakan.
Tidak lama kemudian, ia membacakannya kembali dalam bahasa Inggris.
Malam itu, suara Indonesia menembus batas.
Radio-radio di luar negeri mendapat kabar bahwa sebuah bangsa di Asia Tenggara telah menyatakan dirinya merdeka.
Untuk sesaat, mungkin Yusuf merasa tugasnya selesai.
Ternyata belum.
Tentara Jepang mendengar siaran itu.
Kempetai bergerak.
Yusuf dan Bachtiar Loebis disergap.
Mereka dipukuli tanpa ampun.
Lalu sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Seorang perwira Jepang menghunus katana.
Yusuf nyaris dipenggal.
Di detik ketika kematian seolah hanya tinggal menunggu ayunan pedang, seorang pegawai Jepang masuk dan menghentikan penyiksaan.
Jepang, katanya, sudah kalah perang.
Yusuf selamat.
Tetapi malam itu ia tidak pulang sebagai seorang pahlawan.
Ia pulang sebagai seorang lelaki yang baru saja dipaksa berhadapan dengan kematian.
Dalam keadaan babak belur, ia mengayuh sepeda menuju rumah sahabatnya, pelukis Basuki Abdullah, di kawasan Gambir.
Bayangkan pemandangan itu.
Jakarta baru saja mendengar kabar kemerdekaan.
Di satu sisi, orang-orang mungkin mulai merasakan harapan. Di sisi lain, seorang pemuda yang membantu menyebarkan kabar tersebut sedang mengayuh sepeda dengan tubuh berlumuran darah.
Keesokan harinya, Yusuf mendapat perawatan di rumah sakit Salemba, yang kini dikenal sebagai RSCM.
Namun darah yang mengering di tubuhnya tidak membuat langkahnya berhenti.
Pada 11 September 1945, kurang dari sebulan setelah Proklamasi, Yusuf bersama tokoh-tokoh radio lainnya Abdulrachman Saleh, ikut mendirikan Radio Republik Indonesia.
Kelak, ia mencetuskan sebuah kalimat yang begitu sederhana:
“Sekali di Udara Tetap di Udara.”
Kalimat itu terdengar seperti slogan.
Tetapi bagi Yusuf, mungkin ia adalah sebuah kesaksian.
Sebab ia pernah membuktikannya dengan tubuhnya sendiri.
Ia telah merasakan bagaimana rasanya suara dibungkam.
Ia tahu bagaimana rasanya ketika sebuah berita kemerdekaan harus diselundupkan. Dan ia tahu bahwa menyuarakan Indonesia merdeka ternyata bisa membuat seseorang nyaris kehilangan nyawa.
Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga, 30 September 1919.
Ia meninggal di Jakarta pada 27 Januari 2008, dalam usia 88 tahun.
Namanya mungkin tidak selalu disebut ketika kita mengingat 17 Agustus.
Kita lebih mudah mengingat podium tempat Proklamasi dibacakan, dua tokoh yang membacakannya, atau foto-foto yang kemudian menjadi ikon sejarah.
Namun sejarah kemerdekaan tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di depan mikrofon.
Ia juga dibangun oleh mereka yang bekerja dalam diam.
Oleh mereka yang mengambil risiko ketika orang lain belum berani.
Oleh mereka yang membuat sebuah suara tetap terdengar ketika kekuasaan berusaha membungkamnya.
Dan malam itu, suara Yusuf Ronodipuro menjadi salah satu suara pertama yang membawa nama Indonesia ke telinga dunia.
Ia membayar suara itu dengan darah.
Barangkali karena itu, kalimat “Sekali di Udara Tetap di Udara” tidak pernah sekadar slogan.
Sebab pernah ada seorang pemuda yang membuktikannya.
Dengan nyawanya sebagai taruhan.