Suasana Haru Idul Fitri di Gaza, Presiden Mahmoud Abbas Suarakan Perdamaian Sejati Segera Terwujud di Palestina

Suasana Haru Idul Fitri di Gaza, Presiden Mahmoud Abbas Suarakan Perdamaian Sejati Segera Terwujud di Palestina
Warga Palestina melaksanakan salat Idulfitri di sejumlah titik di Gaza, Jumat (20/3/2026) (Foto : Instagram)

Jakarta - Spektroom : Otoritas Israel melarang pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 Hijriah di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, bagi mayoritas warga Palestina.

Berdasarkan laporan kantor berita Palestina WAFA dikutip Spektroom, Sabtu (21/3/2026) Akibat larangan tersebut, ratusan hingga ribuan warga Palestina melaksanakan salat Idul Fitri di jalan-jalan, di luar gerbang kompleks Masjid Al-Aqsa dan di sekitar tembok Kota Tua.

Dilaporkan Wafa, adanya penggunaan gas air mata dan granat kejut oleh militer Israel terhadap jamaah yang hendak beribadah di sekitar area Al-Aqsa.

Meskipun dalam kondisi reruntuhan bangunan akibat serangan udara Israel dan pembatasan yang berlanjut, puluhan ribu warga Palestina di Gaza, tetap melaksanakan salat Idul Fitri.

Warga menggunakan alas seadanya dan merayakan tanpa kemeriahan dengan penuh khidmat di tengah hamparan puing-puing Kota Hamad, sebelah utara Khan Younis pada Jumat (20/3/ 2026 ) pagi waktu setempat.

Di tengah ketegangan yang masih berlangsung, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan bahwa Idul Fitri merupakan momentum untuk memperkuat perjuangan mencapai kebebasan dan kemerdekaan Palestina, serta mengakhiri agresi.

Pesan tersebut sarat dengan doa bagi para syuhada, mereka yang terluka, dan keteguhan warga Palestina, khususnya di Gaza.

"Harapan agar perdamaian sejati segera terwujud di tanah Palestina," ucap Abbas

Berita terkait

Dubes Belanda Kagumi Bukittinggi, Prof. Fadli Zon: Tanpa PDRI, Indonesia Tak Akan ada

Dubes Belanda Kagumi Bukittinggi, Prof. Fadli Zon: Tanpa PDRI, Indonesia Tak Akan ada

Bukittinggi-Spektroom : Sejarah bukan sekadar deretan peristiwa yang tersimpan dalam buku atau arsip negara. Sejarah adalah denyut perjalanan sebuah bangsa yang terus hidup, mengajarkan identitas, dan menjadi fondasi masa depan. Pesan itu mengemuka dalam Seminar Internasional bertajuk "Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda; Pergerakan Belanda hingga Repatriasi" yang

Wiza Andrita, Rafles