Terkendala Cuaca, Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Fakfak Belum Temui Responden

Terkendala Cuaca, Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Fakfak Belum Temui Responden
Kepala BPS Fakfak Praju Nasmoko. (foto: Tony Teniwut)

Fakfak-Spektroom : Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi dewasa ini sebagai akibat dari perubahan iklim ditandai angin dan ombak serta kondisi cuaca tidak sehat bagi kesehatan manusia, menjadi salah satu faktor penghambat kelancaran jadwal dan mobilitas petugas sensus ekonomi dalam menghimpun data penduduk.

Kepala BPS Kabupaten Fakfak Parju Nasmoko mengakui, faktor cuaca menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan pendataan Sensus Ekonomi 2026 saat ini, sehingga petugas belum dapat menemui sejumlah responden disejumlah lokasi.

"Kondisi cuaca saat ini sebagai faktor menghambat proses pendataan, khususnya pada wilayah-wilayah remote yang harus ditempuh menggunakan jalur laut. Pada Juli 2026, petugas bahkan harus menunggu hingga kondisi laut memungkinkan untuk melakukan perjalanan," kata Parju, Rabu, 26 Agustus 2026.

Ia menyebut, hambatan tersebut turut memengaruhi jadwal yang sebelumnya telah direncanakan petugas. Sebab, setiap wilayah telah memiliki jadwal pendataan masing-masing sehingga kondisi di lapangan dapat menyebabkan estimasi waktu pelaksanaan meleset.

Kendati demikian, Kepala BPS Kabupaten Fakfak memastikan akan terus berupaya agar tidak ada warga yang terlewat dalam pendataan.

“Kami tetap upayakan, agar tidak ada warga yang terlewat untuk sensus, karena sensus untuk mendata seluruh warga,” tegasnya.

Guna menjangkau responden yang belum dapat ditemui, petugas juga melakukan pendekatan melalui ketua RT, ketua RW maupun kepala distrik, termasuk menghubungi langsung responden agar seluruh sasaran pendataan dapat tercatat.

Selain faktor cuaca, kondisi sebagian responden yang memiliki kesibukan serta beberapa lainnya sedang berada di luar Kabupaten Fakfak, juga jadi kendala yang membuat petugas harus menyesuaikan kembali waktu pendataan agar seluruh responden dapat dijangkau.

"Memang responden ini belum bisa ditemui karena kesibukan. Ada satu-dua kesibukan yang menyebabkan tidak bisa ditemui, dan juga ada beberapa responden yang sedang keluar Fakfak,” tambah Parju.

Sesuai standar operasional prosedur (SOP), pendataan Sensus Ekonomi dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah, sehingga keberadaan responden menjadi faktor penting dalam kelancaran proses pendataan.

Berita terkait

Polda DIY, Pemda dan Suporter Sepakat Jaga Kondusivitas Liga 2026/2027

Polda DIY, Pemda dan Suporter Sepakat Jaga Kondusivitas Liga 2026/2027

Sleman-Spektroom : Rivalitas antar pendukung sepak bola di Yogyakarta diharapkan tetap berada dalam koridor sportivitas. Menjelang kompetisi BRI Super League 2026/2027, Polda DIY bersama pemerintah daerah, manajemen klub, dan kelompok suporter menyepakati komitmen bersama untuk menjaga keamanan dan kondusivitas. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama yang difasilitasi Polda DIY

Fatmawaty, Bian Pamungkas
Gubernur Maluku Dorong Penyelesaian Sengketa Aset Banda 3.700 Hektar dan Penataan Batas Taman Nasional Manusela

Gubernur Maluku Dorong Penyelesaian Sengketa Aset Banda 3.700 Hektar dan Penataan Batas Taman Nasional Manusela

Jakarta-Spektroom: Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, mendorong pemerintah pusat dan Komisi II DPR RI untuk segera menyelesaikan penataan aset perkebunan pala di Kepulauan Banda serta melakukan rekonstruksi ulang tata batas Taman Nasional Manusela. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Ruang Rapat Komisi II, Senayan, Jakarta,

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru
Sulawesi Tenggara Akan Memiliki Bendungan Terbesar Pesosika

Sulawesi Tenggara Akan Memiliki Bendungan Terbesar Pesosika

Jakarta – Spektroom :  Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), sebagai bagian dari target pembangunan infrastruktur baru bidang Sumber Daya Air tahun 2025–2029. Bendungan Pelosika diproyeksikan menjadi bendungan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dan Jatigede, sekaligus menjadi bendungan terbesar di Sultra.

Nurana Diah Dhayanti