Trisandya di Balik Jeruji: Jalan Pulang Menuju Keteguhan Hati
Palangka Raya-Spektroom : Pagi datang perlahan di halaman Lapas Perempuan Kelas IIA Palangka Raya. Dari celah ventilasi, cahaya matahari menyelinap tipis, membelah sunyi ruang pembinaan yang sederhana. Di sana, belasan perempuan duduk bersila dengan kepala menunduk khusyuk. Suara doa Trisandya mengalun lirih, seperti menuntun langkah batin yang lama mencari tenang.
Tak ada riuh suara anak ataupun tetangga rumah, tapi tak ada air mata yang diumbar. Adanya keheningan, doa, dan harapan-harapan yang inginingin terus tumbuh di balik jeruji. Bagi para warga binaan itu, sembahyang bukan sekadar ritual, melainkan ruang untuk berdamai atasatas apa yang terjadi pada diri sendiri, merawat harapan, dan menyusun kembali kekuatan untuk melanjutkan hidup sesuai petunjuk Nya.
Saat itu, dua Penyuluh Agama Hindu dari Kementerian Agama Kota Palangka Raya, Wayan Sukarini dan Putu Murteyasa, hadir mendampingi para warga binaan dalam kegiatan bimbingan rohani Hindu, Kamis, (2/7/2026). Mereka memimpin rangkaian Kremaning Sembahyang, mulai dari pensucian diri, puja, hingga doa penutup.
Dengan suara lembut dan menenangkan, Wayan Sukarini mengajak para warga binaan memaknai doa sebagai jalan memperbaiki diri. Menurutnya, di mana pun manusia berada, kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan tidak pernah tertutup.
“Melalui Trisandya dan sembahyang, mari sucikan hati, memohon pengampunan, dan menguatkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Bagi para warga binaan, momen itu menjadi jeda dari rutinitas kehidupan di dalam lapas. Dalam doa-doa yang dipanjatkan, tersimpan kerinduan akan ketenangan, keluarga, dan masa depan yang ingin diperbaiki ketika kembali ke tengah masyarakat nanti.
Putu Murteyasa menuturkan, pembinaan rohani memiliki peran penting dalam membangun keteguhan mental dan moral warga binaan. Agama, katanya, menjadi bekal agar mereka mampu menjalani hidup dengan lebih bijaksana setelah menyelesaikan masa pembinaan.
“Kami berkomitmen hadir melayani umat, termasuk saudara-saudara di lapas. Dengan iman dan keteguhan hati, setiap tantangan hidup dapat dijalani dengan tabah,” katanya.
Pihak Lapas Perempuan Kelas IIA Palangka Raya menyambut baik kegiatan tersebut. Bimbingan rohani dinilai membantu proses pembinaan sekaligus memberi ketenangan batin bagi warga binaan selama menjalani masa pidana.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Di tengah ruang sederhana itu, harapan-harapan kecil kembali dinyalakan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan menunggu waktu dan jalan pulang menuju kehidupan yang lebih baik. (Polin-Maturidi)