Turun di Gombong, Saat Perjalanan Kereta Berlanjut Menjadi Petualangan Wisata
Kebumen-Spektroom: Perjalanan menuju Kebumen tidak selalu harus dimulai dari balik kemudi kendaraan pribadi.
Ada cara lain yang menawarkan pengalaman berbeda: duduk di dalam gerbong kereta, menikmati pemandangan yang berganti, lalu turun di sebuah stasiun tua yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah kereta api jalur selatan Jawa.
Stasiun Gombong di Kelurahan Wonokriyo, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, bisa menjadi titik awal perjalanan itu.
Stasiun yang berada sekitar 18 meter di atas permukaan laut tersebut berdiri sejak 1887.
Dibangun perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), Stasiun Gombong hingga kini tetap menjadi simpul penting yang menghubungkan perjalanan antara Kroya, Kutoarjo, dan berbagai kota di Pulau Jawa. Namun, bagi wisatawan, stasiun ini bukan sekadar tempat kereta berhenti.
Dari Gombong, perjalanan dapat diteruskan menuju sejumlah destinasi yang menawarkan wajah berbeda Kabupaten Kebumen. Dalam beberapa menit perjalanan dari stasiun, wisatawan sudah dapat mencapai Benteng Van der Wijck, bangunan peninggalan kolonial yang menyimpan jejak sejarah masa lalu.
Bagi pencinta wisata alam, perjalanan dapat dilanjutkan ke Pantai Menganti. Berjarak sekitar 30 kilometer dari Gombong, pantai yang berada di kawasan pesisir selatan ini menawarkan panorama perbukitan hijau yang berpadu dengan birunya laut.
Pilihan lainnya adalah Goa Jatijajar, Waduk Sempor, hingga Roemah Martha Tilaar. Masing-masing menghadirkan pengalaman berbeda, mulai dari wisata alam, sejarah, hingga budaya.
Menariknya, perjalanan wisata itu bisa dimulai tanpa harus membawa kendaraan pribadi sejak dari rumah. Kereta api menjadi pilihan transportasi yang memungkinkan wisatawan tiba di Gombong dengan lebih nyaman, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi lokal menuju destinasi pilihan.
Meningkatnya jumlah penumpang menunjukkan bahwa Gombong semakin ramai sebagai titik perjalanan. Pada 2023, penumpang datang dan berangkat dari Stasiun Gombong mencapai 33.646 orang per bulan. Angka itu naik menjadi 37.936 orang pada 2024 dan 41.338 orang pada 2025.
Pada tahun 2026, hingga bulan Agustus, rata-rata kembali meningkat menjadi 44.861 penumpang. Dibandingkan 2023, angka tersebut tumbuh sekitar 33 persen.
Setiap hari, sekitar 56 perjalanan kereta api penumpang dilayani dari dan menuju Stasiun Gombong.
Bagi wisatawan, pertumbuhan mobilitas tersebut membuka peluang lebih besar bagi Gombong untuk berkembang sebagai salah satu pintu masuk pariwisata Kebumen.
“Stasiun Gombong bukan sekadar tempat naik dan turun kereta, tetapi bagian penting dari konektivitas masyarakat, termasuk mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, maupun pariwisata,” ujar manager humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin,
Kini, ketika wisata berbasis perjalanan dan pengalaman semakin diminati, Stasiun Gombong menawarkan satu hal sederhana: kemudahan untuk memulai perjalanan.
Kereta membawa wisatawan sampai Gombong. Setelah itu, Kebumen-lah yang mengambil alih cerita dengan benteng tua, gua, waduk, perbukitan, pantai, dan jejak budaya yang menunggu untuk dijelajahi.
Sebab, terkadang perjalanan wisata tidak dimulai ketika tiba di tempat tujuan. Ia justru dimulai sejak kereta melambat, pintunya terbuka, dan kaki pertama kali menginjak peron Stasiun Gombong.