UTM Malaysia Gandeng Pemko Tanjungpinang, Pulau Penyengat Jadi Fokus Pelestarian Warisan Melayu
Tanjungpinang- Spektroom - Pemerintah Kota Tanjungpinang menggandeng Universiti Teknologi Malaysia (UTM) untuk memperkuat riset, pendidikan, teknologi, dan pelestarian warisan budaya Melayu, khususnya di kawasan Pulau Penyengat.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Wali Kota Tanjungpinang H. Lis Darmansyah dan delegasi UTM di Aula Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Selasa (11/8/2026).
Kerja sama ini dinilai strategis karena tidak hanya membuka ruang pertukaran pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mendorong hasil penelitian akademik agar dapat mendukung pembangunan dan pelestarian kawasan bersejarah di Tanjungpinang.
Lis mengatakan, kerja sama dengan UTM menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi, terutama dalam memanfaatkan perkembangan teknologi dan keahlian akademik untuk pembangunan kota.
“Mudah-mudahan kerja sama ini memberikan manfaat bagi Tanjungpinang, sekaligus menjadi daya tarik bagi pengunjung dan memiliki daya guna bagi pembangunan kota,” ujar Lis.

Pulau Penyengat Jadi Objek Kajian
Sebelum penandatanganan MoU, kegiatan diisi pemaparan dari Lembaga Arkitek Malaysia Cawangan Selatan (PAMso) serta hasil kajian mahasiswa UTM mengenai bangunan-bangunan Melayu di Pulau Penyengat.
Kajian tersebut mengulas karakteristik arsitektur, nilai sejarah, serta potensi pelestarian bangunan dan kawasan sebagai bagian dari warisan budaya Melayu.
Lis menilai kesamaan akar budaya Indonesia dan Malaysia menjadi kekuatan untuk memperkuat kerja sama lintas negara dalam menjaga warisan sejarah dan budaya Melayu.
“Dengan adanya kesamaan akar budaya antara Indonesia dan Malaysia, semoga dapat memberikan efek positif dan mempererat kerja sama lintas negara, khususnya dalam pelestarian budaya,” katanya.
Dosen Pembimbing Pusat Kajian Alam Bina Dunia Melayu (KALAM) UTM, Ar. IDr. Ts. Dr. Noraslinda Binti Abdul Rahman, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan UTM dengan Pemko Tanjungpinang.
Fokusnya mencakup penataan arsitektur warisan cagar budaya serta penguatan pendidikan, baik formal maupun nonformal.
“Melalui kajian dan dokumentasi yang dilakukan secara berkelanjutan, KALAM berupaya menyediakan data dan informasi yang valid mengenai arsitektur bangunan serta lingkungan binaan warisan dunia Melayu,” kata Noraslinda.

Menurut dia, kunjungan UTM ke Tanjungpinang sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat langsung kondisi arsitektur dan pemeliharaan infrastruktur di kota tersebut.
“Kami datang ke Tanjungpinang untuk melakukan kajian arsitektur. Selain berbagi ilmu dan pengalaman, kami juga ingin melihat secara langsung pemeliharaan infrastruktur di Kota Tanjungpinang,” ujarnya.
Noraslinda menambahkan, KALAM berkomitmen menyebarluaskan pengetahuan mengenai pentingnya warisan arsitektur dunia Melayu melalui pembelajaran, pelatihan, seminar, pameran, dan penerbitan.
KALAM juga menyediakan layanan konsultasi bidang desain dan konservasi sehingga hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai dasar pelestarian dan pengembangan kawasan warisan budaya.
Kerja sama Pemko Tanjungpinang dan UTM tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menghubungkan riset akademik dengan kebutuhan pembangunan, sekaligus menjaga identitas sejarah dan budaya Melayu di Tanjungpinang.