Blackout di Batam, Saat Listrik Padam, Internet Putus dan Air Tak Lagi Mengalir
Batam-Spektroom : Senin pagi (12/10/2026) seharusnya menjadi awal pekan seperti biasa bagi Raflesh, seorang pensiunan di Batam. Namun, pagi itu rumahnya mendadak gelap. Udara terasa panas, kipas berhenti berputar, dan air tak lagi mengalir dari keran.
Di tengah suasana yang semakin tidak nyaman, cucu-cucunya mulai rewel. Raflesh pun mengambil keputusan yang tidak biasa: membawa keluarganya mengungsi ke hotel.
“Saya terpaksa membawa keluarga saya mengungsi ke hotel. Nggak kuat panas dan air tidak menyala, cucu ribut terus,” ujar Raflesh.
Keputusan sederhana itu menggambarkan bagaimana pemadaman listrik dapat mengubah rutinitas sebuah keluarga. Menyalakan lampu, mengisi daya telepon, menggunakan air, atau sekadar beristirahat menjadi persoalan yang harus dipikirkan ulang.
Namun, tidak semua warga memiliki pilihan seperti Raflesh. Hotel mungkin menjadi tempat berlindung bagi keluarga yang memiliki cukup uang. Bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan, bertahan di rumah yang panas tanpa listrik dan air bisa menjadi satu-satunya pilihan.
Di kota yang kerap dipromosikan sebagai pusat investasi dan pertumbuhan ekonomi digital, pemadaman pagi itu menghadirkan ironi. Saat warga bersiap bekerja, anak-anak hendak berangkat sekolah, dan pelaku usaha mulai membuka toko, sejumlah kawasan justru kehilangan layanan dasar.
Keluhan bermunculan melalui status WhatsApp. Warga Bengkong dan Batam Center, antara lain, dilaporkan mengalami pemadaman. Ketidakjelasan mengenai penyebab dan waktu pemulihan membuat banyak orang kesulitan mengatur kegiatan.
“Karena Senin pagi ini hari sibuk, listrik padam tanpa pemberitahuan juga. Jadi kami tidak tahu penyebab gangguan listrik ini,” keluh seorang warga.
Bagi Eka, warga Batam lainnya, situasi itu memunculkan sindiran tentang kehidupan di kota yang identik dengan teknologi.
“Beginilah tinggal di kota pusat data,” ujarnya.
Dampak pemadaman tidak berhenti di rumah warga. Gedung DPRD Kota Batam dilaporkan masih gelap hingga pukul 08.20 WIB, padahal sejumlah agenda, termasuk rapat paripurna, telah dijadwalkan.
“Air juga sudah mulai tak mengalir. Sudah macam tinggal di dusun tahun 1980-an,” keluh staf tersebut.
Di sejumlah persimpangan, lampu lalu lintas juga tidak berfungsi. Di Simpang Bank Indonesia, kawasan Kejaksaan, kendaraan disebut saling berebut jalan hingga memicu kemacetan.
Gangguan listrik pun bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan. Ketika lampu pengatur lalu lintas mati, keselamatan pengguna jalan ikut dipertaruhkan.
Hingga laporan ini disusun, penyebab utama pemadaman dan waktu pemulihan secara menyeluruh belum dapat dipastikan.
Bagi warga, modernitas bukan hanya gedung megah, investasi besar, atau teknologi canggih. Modernitas juga berarti bisa menjalani pagi tanpa kebingungan, memperoleh informasi saat layanan terganggu, dan merasa aman beraktivitas.
Raflesh mungkin dapat membawa keluarganya ke hotel. Namun, bagi keluarga lain, pilihan itu belum tentu tersedia.
Di situlah ukuran kota pintar sesungguhnya diuji: bukan hanya seberapa besar data yang mampu diproses, melainkan seberapa siap infrastruktur menjaga kehidupan warganya tetap berjalan ketika listrik tiba-tiba padam.