BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi di Perairan Maluku Utara, Pelaut Diminta Tunda Pelayaran Jika Cuaca Memburuk
Ternate-Spektroom : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah perairan Maluku Utara pada periode 23 hingga 26 Juni 2026.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate melalui Prakirawan BMKG, Justia P. D. Galensong, dalam rilis yang diterima Senin (22/6/2026), menjelaskan bahwa kondisi cuaca laut dipengaruhi oleh pola angin yang cukup kuat di wilayah Indonesia bagian utara maupun selatan khatulistiwa.
Menurutnya, pola angin di wilayah Indonesia bagian utara khatulistiwa umumnya bergerak dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 4 hingga 20 knot. Sementara itu, di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, angin bergerak dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan berkisar 4 hingga 25 knot.
“Rata-rata tinggi gelombang di perairan Maluku Utara mencapai 1,25 hingga 2,5 meter,” kata Justia.
BMKG mencatat kondisi gelombang tersebut berpotensi terjadi di sejumlah wilayah perairan, meliputi Perairan Tenggara Morotai, Timur Laut Morotai, Kepulauan Batang Dua, Timur Kepulauan Halmahera, Barat Daya Obi, Timur Sanana, Selatan Taliabu, Utara Mangoli, serta Perairan Kepulauan Loloda.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat membahayakan aktivitas pelayaran. Risiko keselamatan terutama dapat terjadi pada perahu nelayan apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter. Sementara kapal tongkang berisiko mengalami gangguan pelayaran jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter.
Karena itu, para nakhoda, motoris, nelayan, maupun masyarakat pengguna transportasi laut diminta meningkatkan kewaspadaan selama beraktivitas di laut.
BMKG juga mengimbau agar pelayaran tidak dipaksakan ketika kondisi gelombang tinggi terjadi demi menghindari risiko kecelakaan laut.
“Jika kondisi laut tidak memungkinkan, sebaiknya menangguhkan keberangkatan demi keselamatan penumpang dan awak kapal,” tegasnya.
Selain itu, perusahaan pelayaran dan masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan informasi cuaca maritim yang dikeluarkan BMKG maupun instansi terkait sebelum melakukan pelayaran.
Peringatan dini ini menjadi perhatian penting mengingat sebagian besar mobilitas masyarakat Maluku Utara masih sangat bergantung pada transportasi laut antarpulau. Dengan meningkatnya kewaspadaan dan kepatuhan terhadap informasi cuaca, diharapkan risiko kecelakaan pelayaran dapat diminimalisasi.