BMKG : Waspada Musim Pancaroba Jelang Kemarau, Ditandai Cuaca Ekstrem
Solo - Spektroom : Di prediksi saat ini sudah memasuki musim pancaroba atau menjelang peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau yang ditandai dengan perubahan cuaca yang dratis atau ekstrem
Perubahan cuaca dratis yang sekarang melanda termasuk di Wilayah Jawa Tengah dari panas terik dipagi hari dan hujan lebat pada sore hari , sehingga masyarakat diminta untuk waspada saat berada diluar rumah.
Di konfirmasi ( Kamis, 26/04/2026 ) Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menyampaikan fenomena cuaca ekstrem dipengaruhi tingginya tingkat konvektivitas udara.
Dimana proses pemanasan yang kuat di pagi hari memicu pertumbuhan awan secara masif menjelang sore hingga awal malam dan akibatnya, pelepasan energi berupa hujan deras kerap tidak terhindarkan.
"Dari pancaroba ini yang perlu diwaspadai adalah ketika beberapa hari tidak hujan. Awan yang terbentuk itu cukup besar, sehingga petirnya menjadi lebih besar, hujannya juga bisa sampai lebat yang disertai angin," Jelas Giyarto
Fenomena awan konvektif raksasa tersebut membawa ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, angin puting beliung, hingga fenomena hujan es.
Dengan kondisi tersebut BMKG memberikan peringatan kewaspadaan khusus bagi masyarakat yang bermukim di daerah hulu sungai, dataran rendah, dan kawasan cekungan, serta wilayah dengan sistem irigasi atau drainase yang buruk juga masuk dalam zona paling rawan terdampak genangan air.
Terkait durasi masa peralihan ini, BMKG memprediksi wilayah Semarang dan sekitarnya masih akan berada dalam bayang-bayang cuaca pancaroba hingga akhir April.
Namun, seiring berjalannya waktu, kelembapan udara akan berangsur menurun digantikan sirkulasi udara yang jauh lebih kering yang menunjukkan transisi nyata menuju musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada bulan agustus
"Mulai memasuki awal Mei itu sudah mulai meninggalkan pancaroba dan memasuki musim kemarau. Menginjak bulan Mei udara akan menjadi lebih kering dan potensi hujan makin berkurang, dengan puncak musim kemaraunya pada Agustus," kata Giyarto.
Menghadapi potensi cuaca yang tidak menentu ini, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG guna melakukan langkah antisipasi serta melakukan mitigasi mandiri di lingkungan sekitar, seperti membersihkan saluran air dan memeriksa pepohonan yang rapuh. (Dan)