Trending

Di Ujung Musim Kering Kendawangan, Mereka Berlari Mendahului titik panas

Di Ujung Musim Kering Kendawangan, Mereka Berlari Mendahului titik panas
Personil polres Ketapang bersama tim gabungan perusahaan dan masyarakat sisir bekas karhutla untuk memastikan tidak nihil bara yg masih bisa menyala kembali. Foto : Humas polres Ketapang .

Ketapang - Spektroom : Dari layar pemantauan satelit, puluhan titik panas muncul di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Bagi sebagian orang, titik-titik merah itu hanya data.

Namun bagi tim gabungan yang bertugas di lapangan, setiap titik panas adalah alarm yang harus segera dijawab sebelum berubah menjadi bencana.

Senin (05/10/2026), personel Polres Ketapang bersama TNI, petugas pemadam perusahaan dan unsur terkait bergerak menuju Desa Air Hitam Besar serta Desa Pembedilan.

Dua wilayah itu terdeteksi memiliki sejumlah hotspot melalui aplikasi Lancang Kuning, sistem pemantauan yang selama ini menjadi salah satu alat deteksi dini kebakaran hutan dan lahan.

Perjalanan menuju lokasi tidak selalu mudah. Hamparan lahan yang mengering akibat kemarau menjadi pemandangan yang mendominasi.

Di beberapa titik, vegetasi berupa ilalang dan semak belukar terlihat rapuh, mudah terbakar ketika tersulut api sekecil apa pun.

Saat tim tiba di lokasi, bekas kebakaran terlihat jelas.
Rumput dan semak yang sebelumnya hijau berubah menjadi hamparan hitam.

Asap memang tak lagi membumbung tinggi, namun jejak kebakaran masih tersisa di sejumlah areal yang terbakar.

Kapolres Ketapang AKBP Putra Pratama mengatakan setiap informasi hotspot yang diterima harus segera diverifikasi di lapangan.

Menurutnya, kecepatan menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas.

“Setiap informasi hotspot kami tindak lanjuti dengan pengecekan langsung di lapangan. Penanganan cepat sangat penting agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar,” kata Putra.

Hasil pengecekan menunjukkan sekitar delapan hektare lahan terdampak kebakaran.

Sebagian besar berada di Desa Air Hitam Besar dengan luas sekitar enam hektare, sedangkan dua hektare lainnya berada di Desa Pembedilan.

Vegetasi yang terbakar didominasi ilalang, semak belukar dan albasia dengan karakter kebakaran permukaan pada tanah mineral.

Di tengah ancaman karhutla yang masih membayangi Kalimantan Barat, kerja sama menjadi modal utama.

Personel Damkar PT BMJ, PT HKI, PT BNS, PT SKS, Polsek Kendawangan dan Koramil Kendawangan bekerja berdampingan.

Kendaraan pemadam, mesin pompa, pompa punggung hingga perangkat GPS digunakan untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses.

Namun tugas mereka tidak berhenti ketika api padam. Penyisiran dan pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.

Pengalaman menunjukkan, bara kecil yang tersembunyi di antara rerumputan kering dapat kembali menyala dan memicu kebakaran baru.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat yang beberapa kali merasakan dampak kabut asap dalam beberapa tahun terakhir, upaya tersebut memiliki arti yang lebih besar.

Setiap hektare lahan yang berhasil diamankan bukan hanya soal menyelamatkan vegetasi, tetapi juga menjaga kualitas udara, kesehatan warga dan aktivitas ekonomi agar tetap berjalan normal.

Di Kendawangan, pertarungan melawan karhutla belum sepenuhnya berakhir.

Namun di tengah musim kering yang masih berlangsung, langkah cepat para petugas menjadi garis pertahanan pertama agar api tidak kembali mengambil ruang lebih luas dari yang seharusnya.

Berita terkait

Pemkot Surabaya Minta Warga Hentikan Penyebaran Identitas Anak Berhadapan dengan Hukum

Pemkot Surabaya Minta Warga Hentikan Penyebaran Identitas Anak Berhadapan dengan Hukum

Surabaya-Spektroom : Pemerintah Kota Surabaya mengimbau masyarakat menghentikan penyebaran foto dan identitas anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dalam kasus perundungan terhadap anak penyandang disabilitas. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi hak anak, mencegah perundungan lanjutan, serta menjaga masa depan mereka. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian

Bian Pamungkas