Empat Bulan Dilanda Kemarau, Harga Cabai Di Kabupaten Teluk Bintuni Melonjak
Bintuni-Spektroom : Harga cabai di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, melonjak sebagai akibat dari dampak musim kemarau yang berkepanjangan. Hingga Kamis,15 Oktober 2026, harga cabai kecil di tingkat pedagang mencapai Rp200 ribu per kilogram, sedangkan cabai keriting dijual Rp160 ribu per kilogram.
Salah satu pedagang sayur-mayur di kawasan SP 5 yakni Lin menjelaskan, kenaikan harga cabai telah terjadi dalam dua pekan terakhir. Kondisi tersebut diduga dipicu berkurangnya pasokan cabai dari petani akibat musim kemarau yang berlangsung sekitar empat bulan.
Pasokan cabai yang biasanya menurutnya, didatangkan dari wilayah Kebar, Kabupaten Manokwari, kini semakin sulit diperoleh. Kondisi ini berdampak langsung terhadap harga jual di pasar.
“Saya biasa beli cabai dari Kebar, Manokwari. Katanya cabai lagi kosong, jadi harganya mahal,” tutur Iin.
Di tengah melonjaknya harga cabai, sejumlah komoditas sayuran lainnya masih dijual dengan harga relatif normal. Tomat, misalnya, masih berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.
Sedangkan, harga bawang merah dan bawang putih masih berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
Musim kemarau yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada harga bahan pangan, tetapi juga memengaruhi aktivitas pertanian di Kabupaten Teluk Bintuni. Sejumlah petani mengalami kesulitan mendapatkan air untuk mengairi kebun dan tanaman mereka, terutama komoditas yang membutuhkan pasokan air cukup banyak.
Demikian pula, terbatasnya ketersediaan air berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengurangi hasil panen. Kondisi seperti itu turut memengaruhi ketersediaan pasokan sayuran di pasar, termasuk cabai yang kini mengalami kenaikan harga signifikan.
Jika kondisi kemarau terus berlangsung dan pasokan belum kembali normal, harga cabai dikhawatirkan tetap tinggi dan menambah beban pengeluaran masyarakat.