Gebrak Pagi, 1.420 Personel Dishub Berjibaku Mengurai Kemacetan Jakarta
Jakarta — Spektroom : Pukul 06.30 WIB, ketika Jakarta mulai berpacu dengan waktu, ribuan kendaraan bergerak memenuhi jalanan. Warga bergegas menuju tempat kerja, pelajar menuju sekolah, sementara sejumlah proyek konstruksi mempersempit ruang gerak kendaraan.
Di tengah kesibukan itu, kehadiran petugas di persimpangan menjadi harapan agar perjalanan pagi tetap lancar.
Senin (12/10/2026), sebanyak 1.420 personel Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta dikerahkan melalui Gerakan Bersama Atasi Kemacetan Pagi (Gebrak Pagi). Mereka ditempatkan di 90 titik prioritas yang tersebar di lima wilayah kota administrasi untuk membantu mengendalikan kepadatan lalu lintas.
Dari jumlah tersebut, 595 personel merupakan petugas Gebrak Pagi yang memperkuat 825 personel pengaturan lalu lintas rutin. Kehadiran mereka bukan sekadar menambah jumlah petugas, melainkan memperkuat pelayanan di tengah tingginya mobilitas warga ibu kota.
Kepala Dishub DKI Jakarta, Budi Awaluddin, turut memantau kondisi lalu lintas di kawasan Bundaran Patung Kuda, Jalan MH Thamrin. Kawasan ini membutuhkan perhatian ekstra karena sejumlah proyek strategis nasional (PSN) menutup beberapa lajur jalan.
“Kami menyadari kemacetan Jakarta tidak bisa dihilangkan dalam satu pagi. Namun, kehadiran petugas di jalan diharapkan dapat membantu mengurai kepadatan, merespons hambatan, dan membuat perjalanan warga menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia, mengungkapkan, Gebrak Pagi bukan gerakan tanpa perhitungan. Dishub DKI Jakarta menjadwalkan kegiatan ini setiap Senin, Selasa, dan Kamis, pukul 06.30–08.00 WIB, berdasarkan pemantauan volume lalu lintas di 48 ruas jalan selama Juli hingga September 2026.
"Hasil pemantauan menunjukkan volume kendaraan rata-rata cenderung lebih tinggi pada ketiga hari tersebut. Puncak kesibukan terjadi pukul 07.00–08.00 WIB, ketika perjalanan menuju tempat kerja dan sekolah berlangsung bersamaan," sebutnya.
Data tersebut, menurutnya, menjadi dasar penempatan personel pada waktu dan lokasi yang membutuhkan pengaturan lebih intensif. Dengan pendekatan ini, penanganan diharapkan tidak hanya dilakukan setelah kemacetan terjadi, tetapi juga mampu mengantisipasi kepadatan.
Di jalan raya, petugas bukan satu-satunya penentu kelancaran. Kesadaran pengendara mematuhi rambu, tidak berhenti sembarangan, dan mengikuti arahan petugas turut menentukan lancarnya arus kendaraan.
Pesan itu disampaikan melalui keterlibatan Anastasia Putri, atau Mpok Caca, Duta Dishub untuk Keselamatan dan Ketertiban Berlalu Lintas.
Kehadirannya menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat, termasuk melalui pengenalan yang sebelumnya dilakukan lewat program CCTV Jakarta Take Over.
Dishub DKI Jakarta, lanjut, Budi, akan mengevaluasi pelaksanaan Gebrak Pagi, termasuk kemungkinan menambah titik pengaturan, hari kegiatan, maupun jumlah personel. Melalui semangat
“Hadir di Jalan, Hadirkan Kelancaran”, program ini menjadi ikhtiar menghadirkan pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Di Jakarta yang terus bergerak, mengurai kemacetan memang bukan pekerjaan sehari. Namun, petugas yang sigap, pengaturan berbasis data, dan pengendara yang tertib dapat menjadi langkah awal menuju perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan terkendali.