Gubernur Mahyeldi Tekankan Literasi Tak Sekadar Membaca, Generasi Muda Harus Jadi Pencipta Karya
Padang-Spektroom : Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah menegaskan literasi harus menjadi kekuatan untuk membangun generasi muda yang berpengetahuan, berbudaya, sekaligus peduli terhadap lingkungan.
Penegasan itu disampaikan Mahyeldi saat membuka Festival Literasi Daerah Tingkat Provinsi Sumbar 2026 di Padang, Selasa (8/9/2026).
Menurut Mahyeldi, literasi tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus dimaknai lebih luas sebagai kemampuan memahami, mengolah, menganalisis, dan memanfaatkan informasi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
“Kita bukan hanya bertanya apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita lakukan agar semua kekayaan itu tetap hidup dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya,” ujar Mahyeldi.
Gubernur mengatakan Sumbar memiliki modal kuat dalam membangun budaya literasi. Bahkan, berdasarkan data GoodStats dan BPS 2025, Sumbar mencatat persentase kunjungan masyarakat ke perpustakaan tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 17,75 persen.
Peningkatan juga terjadi pada kunjungan fisik ke Perpustakaan Daerah Sumbar. Dari 60.693 kunjungan pada 2024, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 67.000 kunjungan pada 2025.
Mahyeldi menilai tingginya minat masyarakat terhadap perpustakaan harus diikuti dengan penguatan kualitas literasi. Masyarakat, khususnya generasi muda, tidak cukup hanya menjadi pembaca atau konsumen informasi, tetapi harus mampu menciptakan karya.
Ia mendorong anak-anak muda Sumbar agar memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk menghasilkan karya yang mengangkat identitas dan kekayaan budaya Minangkabau.
“Budaya Minangkabau mensinergikan dua sumber informasi. Pertama ayat-ayat qauliyah yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Kedua ayat-ayat kauniyah yaitu alam yang terbentang luas,” jelasnya.
Mahyeldi juga mengingatkan agar nilai-nilai kearifan lokal seperti Tau Jo Nan Ampek dan Sumbang Duo Baleh tidak hanya dipahami secara teori. Nilai tersebut, kata dia, perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika generasi muda beraktivitas di ruang digital.
“Alam takambang jadi guru” juga harus menjadi landasan dalam membangun budaya literasi di Sumbar. Dengan begitu, literasi tidak tercerabut dari akar budaya dan lingkungan masyarakat Minangkabau.
Sementara itu, Bunda Literasi Sumbar Harnely Mahyeldi menekankan pentingnya kemampuan literasi digital bagi anak-anak. Menurutnya, derasnya arus informasi di internet membutuhkan kemampuan untuk memilah dan menganalisis informasi secara kritis.
“Digitalisasi jangan menjadi penghambat kemajuan. Kita harapkan digital justru menambah semangat anak-anak untuk berilmu pengetahuan,” katanya.
Festival Literasi Daerah 2026 mengusung tema “Peranan Literasi dalam Menjaga Alam dan Melestarikan Budaya” dan berlangsung selama tiga hari. Kegiatan tersebut melibatkan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha hingga media.
Berbagai agenda digelar, mulai dari bimtek kepenulisan berbasis budaya lokal, lomba literasi, pameran naskah kuno, bedah buku, musikalisasi puisi, hingga bazar buku dan UMKM. Festival juga dilengkapi layanan donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis serta layanan administrasi kependudukan.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumbar Jumaidi mengatakan festival tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi melalui edukasi, kompetisi, apresiasi, dan kolaborasi.
Mahyeldi berharap gerakan literasi tidak berhenti pada kegiatan festival. Budaya membaca, berpikir kritis, berkarya, menjaga alam dan melestarikan budaya harus terus hidup di sekolah, keluarga, komunitas hingga nagari.
Dengan penguatan tersebut, ia optimistis literasi dapat menjadi salah satu fondasi dalam menyiapkan generasi Sumbar yang tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga kuat dalam karakter dan identitas budayanya.