Harmoni Angklung di Sekolah Gifu : Menyatukan Hati Anak-Anak Jepang

Harmoni Angklung di Sekolah Gifu : Menyatukan Hati Anak-Anak Jepang
Pelajar sekolah dasar Jepang belajar Angklung sebagai media pendidikan karakter.( Foto KBRI )

Jakarta - Spektroom : Suara angklung tidak cukup bermakna bila hanya digoyangkan oleh satu anak. Namun, saat digetarkan bersama-sama, tercipta harmoni yang indah. Filosofi gotong royong dan kebersamaan inilah yang kini tengah dirasakan oleh siswa-siswi di Gifu Special Needs School, Jepang.

Mulai tahun ajaran 2026, sekolah berkebutuhan khusus tersebut secara resmi memasukkan angklung ke dalam kurikulum pembelajaran musik. Terobosan ini lahir dari kolaborasi berkelanjutan antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Gifu University, dan otoritas pendidikan setempat yang dirintis sejak tahun 2022

Mengapa Angklung Sangat Spesial?

Bagi anak berkebutuhan khusus, bermain alat musik yang rumit sering kali menjadi sebuah tantangan. Di sinilah angklung hadir sebagai instrumen yang inklusif.

Instrumen ini sangat mudah dimainkan. Siswa hanya perlu menggoyangkannya untuk menghasilkan nada. Meski sederhana, aktivitas ini mampu membantu siswa memahami ritme, melatih motorik, serta membangun kerja sama.

Lebih dari itu, angklung berfungsi sebagai media pendidikan karakter. Kepala Gifu Special Needs School, Sachi Sumi, mengungkapkan bahwa anak-anak sangat menikmati pembelajaran ini dan memungkinkannya untuk bermain musik bersama dalam kelompok.

Diplomasi Budaya Menjelang 70 Tahun Persahabatan

Sebagai bentuk dukungan penuh, UPI menghibahkan satu set alat musik angklung kepada Gifu Special Needs School. Penyerahan simbolis ini disaksikan langsung secara daring oleh pihak kampus UPI dan KBRI Tokyo.

Hibah Satu Set Angklung kepada Gifu Special Needs School, Jepang dari Universitas Pendidikan Indonesia (Foto : Gifu Special Needs School)

Sementara itu, Yukihiro Saitoh dari Gifu City Board of Education menilai angklung bukan lagi sekadar alat musik, melainkan media pembentuk karakter. Di dalam setiap getarannya, anak-anak belajar tentang filosofi Bhinneka Tunggal Ika, gotong royong, dan toleransi. Mereka belajar bahwa perbedaan nada justru menciptakan keindahan jika dimainkan bersama.

"Angklung yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia bukan hanya memiliki nilai artistik tetapi juga mengandung filosofi gotong royong toleransi, dan kebersamaan" ujarnya.

"Dengan masuknya pembelajaran Angklung menjadi bagian dari kurikulum Gifu Special Needs School, menjadi bukti kuatnya people to people contact hubungan persahabatan Indonesia Jepang khususnya menjelang 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2028,” tutur Duta Besar RI Nurmala Kartini Sjahrir, dikutip dari KBRI Tokyo, Senin ( 13/7/2026 )

Ia berharap Ke depannya, suara angklung diharapkan tidak bergema di Gifu, tetapi juga menyebar ke berbagai sekolah luar biasa lainnya di seluruh Jepang.

Berita terkait

Wali Kota: Penetapan Sekkot Ambon Menunggu Pertimbangan teknis  dari BKN

Wali Kota: Penetapan Sekkot Ambon Menunggu Pertimbangan teknis dari BKN

Ambon-Spektroom : Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena memastikan proses penetapan Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon definitif telah memasuki tahap akhir. Pemerintah Kota Ambon kini sementara menunggu terbitnya pertimbangan teknis (Pertek) dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebelum nama pejabat terpilih diumumkan dan dilantik. Hal itu disampaikan Bodewin kepada wartawan usai menghadiri Rapat Paripurna

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru
Prof. Dr. H. Abdul Latief: Korupsi Tak Akan Pernah Kalah Jika Aparat Masih Sibuk Berebut Perkara

Prof. Dr. H. Abdul Latief: Korupsi Tak Akan Pernah Kalah Jika Aparat Masih Sibuk Berebut Perkara

Jakarta- Spektroom: Di tengah tuntutan publik agar pemberantasan korupsi semakin tegas, ironi justru muncul dari dalam tubuh aparat penegak hukum. Bukan minimnya regulasi yang menjadi persoalan utama, melainkan masih kuatnya ego sektoral yang membuat penegakan hukum kerap kehilangan arah. Kaprodi Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Jayabaya Jakarta, Prof. Dr. H.

Yahya Patta, Buang Supeno