Isen Mulang Bukan Sekadar Semboyan, Mahasiswa UIN Palangka Raya Diajak Berkarya dan Berdampak
Palangka Raya-Spektroom: Semangat pantang menyerah tidak cukup hanya diucapkan. Bagi mahasiswa, nilai Isen Mulang perlu diwujudkan melalui gagasan, karya, dan tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Pesan inilah yang mengemuka dalam seminar kearifan lokal yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Palangka Raya, Selasa, (20/10/2026).
Ketua Penyelenggara, Novita Mayasari Angelia, M.H., dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar ini diinisiasi sebagai bentuk komitmen civitas akademika UIN Palangka Raya untuk menggali dan menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal Kalimantan Tengah.
Sambutan sekaligus pembukaan kegiatan disampaikan oleh Wakil Rektor III UIN Palangka Raya, Dr. M. Ali Sibram Malisi, M.Ag. Ia mengingatkan bahwa dunia akademik kerap sibuk dengan seminar internasional dan global, namun lupa pada tempat berpijak.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Pepatah itu harus kita perhatikan.”
Menurutnya, masyarakat Dayak memiliki banyak filosofi yang bisa menjadi falsafah hidup, mulai dari hidup dalam tata aturan dan adat istiadat hingga Handep Hapakat, yaitu hidup berkolaborasi karena manusia tidak bisa hidup sendiri.
Seminar menghadirkan dua akademisi Universitas Palangka Raya sebagai pemateri, yakni Syarah Vaniety, M.Pd. dan Nirena Ade Cristy, M.Pd.
Kegiatan ini diikuti civitas akademika UIN Palangka Raya, di antaranya Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Palangka Raya, Dr. Jumbrodah, S.Si., M.Pd., dan para Wakil Dekan III fakultas di lingkungan UIN Palangka Raya, serta peserta dari berbagai universitas dan perguruan tinggi di Kota Palangka Raya. Seminar digelar secara tatap muka dan diisi dengan penyampaian materi, diskusi interaktif, serta refleksi pembelajaran bagi seluruh peserta.
Hadir pula perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Tengah, perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Palangka Raya, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Kalimantan.
Dalam pemaparannya, Syarah Vaniety, MPd menekankan tiga tahapan penting dalam proses berkarya, yakni bermimpi, berkarya, dan berdampak. Bermimpi menjadi titik awal lahirnya gagasan, berkarya merupakan langkah untuk mewujudkannya, sedangkan berdampak berarti memastikan karya tersebut membawa manfaat bagi orang lain.
Pesan itu sejalan dengan semangat Isen Mulang yang menempatkan ketangguhan dan pantang menyerah sebagai bekal menghadapi tantangan. Mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada gagasan, tetapi berani mengembangkan potensi diri menjadi karya yang berguna bagi lingkungan sekitarnya.
Pemateri kedua, Nirena Ade Cristy, mengangkat pentingnya menghidupkan folklor Dayak sebagai fondasi budaya generasi muda. Melalui materi bertajuk “Menghidupkan Folklor Dayak sebagai Fondasi Budaya Generasi Isen Mulang yang Bermimpi, Berkarya, dan Berdampak bagi Kalimantan Tengah”, ia menjelaskan bahwa cerita rakyat bukan sekadar hiburan, tetapi juga menyimpan nilai pendidikan karakter, identitas budaya, dan kearifan leluhur.
Ia juga mendorong mahasiswa mengembangkan cerita rakyat dan tradisi lokal menjadi berbagai bentuk karya kreatif, mulai dari buku bergambar, animasi, film pendek, drama, hingga konten digital. Dengan cara itu, budaya Dayak dapat diperkenalkan melalui media yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.
(Polin)