Jejak Leluhur di Lereng Merapi, Bedhol Projo Pakem Menjaga Akar Budaya
Sleman-Spektroom: Di lereng selatan Gunung Merapi, suara gamelan berpadu dengan derap langkah para peserta kirab. Ratusan warga dari seluruh kalurahan di Kapanewon Pakem memadati halaman kantor kapanewon pada Rabu (13/5/2026).
Mereka mengenakan busana tradisional, membawa tombak, panji-panji, dan perlengkapan adat dalam Kirab Bregodo untuk memperingati Bedhol Projo.
Pemandangan itu menghadirkan suasana yang seolah membawa masyarakat menembus lorong waktu.
Barisan bregodo berjalan tertib, menggambarkan semangat prajurit masa lampau yang setia menjaga wilayah dan pemimpinnya. Di balik keindahan kostum dan kemeriahan iring-iringan, tersimpan pesan tentang sejarah, persatuan, dan penghormatan kepada leluhur.
Bedhol Projo merupakan simbol perpindahan pusat pemerintahan atau estafet kepemimpinan. Dalam tradisi Jawa, prosesi ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan juga penegasan bahwa pemerintahan harus berjalan dengan membawa nilai-nilai kebijaksanaan, tanggung jawab, dan pengabdian kepada rakyat.

Harda Kiswaya yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa Bedhol Projo bukan hanya seremoni tahunan. Menurutnya, tradisi ini menjadi pengingat agar masyarakat selalu meneladani perjuangan para pendahulu.
“Tradisi dan budaya adalah identitas dan jati diri kita. Tanpa tradisi, manusia ibarat pohon tanpa akar yang mudah tumbang dan kehilangan panduan hidup,” ujarnya.
Ungkapan itu terasa sangat relevan di tengah derasnya arus modernisasi. Di wilayah seperti Pakem, yang hidup berdampingan dengan alam dan sejarah, budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga penopang kehidupan sosial.
Melalui Bedhol Projo, masyarakat diajak untuk merawat semangat golong gilig—bersatu padu antara warga dan pamong pemerintahan.
Bagi masyarakat Pakem, budaya tidak hanya dikenang, tetapi dijalani.
Di setiap langkah kirab, di setiap bunyi gamelan, dan di setiap panji yang berkibar, tersimpan keyakinan bahwa selama akar budaya tetap dijaga, identitas akan terus hidup.
Bedhol Projo pun menjadi penanda bahwa di kaki Merapi, sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia berjalan bersama masyarakat, mengiringi langkah mereka menuju masa depan.